Benarkah Berkebun Bisa Bikin Panjang Umur? Ini Kata Riset

Navaswara.com – Berkebun kerap dianggap sebagai hobi sederhana untuk mengisi waktu luang. Namun, sejumlah penelitian menemukan kaitan antara aktivitas berkebun dengan kesehatan fisik, kesejahteraan mental, serta sejumlah indikator penuaan sehat. Meski begitu, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa berkebun secara langsung membuat seseorang berumur lebih panjang.

Risiko Kematian Lebih Rendah

Salah satu temuan terbaru datang dari penelitian terhadap peserta Lothian Birth Cohort 1921 di Skotlandia. Studi yang mengikuti 475 orang selama 25 tahun menemukan kelompok yang rutin berkebun memiliki risiko kematian 22 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak atau jarang berkebun.

Peneliti juga menemukan kaitan antara aktivitas berkebun dengan sejumlah indikator penuaan. Peserta yang lebih rutin berkebun mengalami penurunan kecepatan berjalan dan pemendekan telomer yang lebih lambat sepanjang periode pengamatan. Telomer merupakan bagian pada ujung kromosom yang kerap digunakan sebagai salah satu penanda proses penuaan sel.

Temuan tersebut menarik karena hubungan antara berkebun dan kesehatan tetap terlihat setelah sejumlah faktor lain diperhitungkan. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.

Aktivitas Fisik

Berkebun juga membuat tubuh tetap bergerak. Menggali tanah, mencabut gulma, menanam, membawa pot, menyapu daun, hingga menyiram tanaman membutuhkan gerakan tubuh dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.

American Heart Association memasukkan aktivitas seperti berkebun ke dalam contoh kegiatan fisik yang dapat membantu memenuhi kebutuhan aktivitas aerobik. Intensitasnya tentu bergantung pada jenis pekerjaan, durasi, serta seberapa banyak tenaga yang dikeluarkan.

Artinya, berkebun dapat menjadi salah satu cara untuk menambah aktivitas fisik dalam keseharian. Namun, tidak tepat menyamakan semua kegiatan berkebun dengan olahraga intensitas sedang selama durasi tertentu karena beban setiap aktivitas bisa berbeda.

Manfaat Mental

Manfaat berkebun juga berkaitan dengan kesehatan mental. Aktivitas hortikultura terapeutik telah diteliti sebagai salah satu pendekatan pendukung untuk membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan.

Sebuah meta-analisis terhadap 17 penelitian menemukan adanya hubungan antara aktivitas hortikultura terapeutik dan perbaikan sejumlah indikator kesehatan mental. Meski demikian, para peneliti juga mencatat perbedaan metode penelitian serta risiko bias pada sejumlah studi yang dianalisis.

Penelitian lain juga menemukan perubahan pada sejumlah indikator stres setelah aktivitas berkebun. Namun, hasil mengenai perubahan fisiologis seperti kadar kortisol belum selalu konsisten. Karena itu, berkebun lebih tepat ditempatkan sebagai aktivitas yang berpotensi mendukung kesejahteraan mental, bukan pengganti terapi medis maupun psikologis.

Terapi Berbasis Alam

Pemanfaatan aktivitas berbasis alam sebagai bagian dari dukungan kesehatan juga sudah diterapkan di sejumlah negara. Inggris, misalnya, menjalankan program *Green Social Prescribing* yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai aktivitas di ruang hijau, termasuk berkebun.

Program tersebut mendapat dukungan pendanaan pemerintah sebesar £5,77 juta dan ditujukan antara lain untuk membantu masyarakat dengan kebutuhan kesehatan mental serta meningkatkan kesejahteraan melalui aktivitas berbasis alam.

Pendekatan semacam ini tidak berarti berkebun diposisikan sebagai pengganti pengobatan. Aktivitas di ruang hijau ditempatkan sebagai salah satu bentuk dukungan tambahan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang.

Bukan Resep Panjang Umur

Lalu, apakah seseorang bisa hidup lebih lama hanya karena rajin berkebun? Jawabannya belum bisa dipastikan. Sebagian besar penelitian yang mengamati hubungan berkebun dan kesehatan menggunakan desain observasional, sehingga peneliti dapat melihat pola hubungan, tetapi tidak dapat memastikan bahwa berkebun menjadi penyebab langsung dari hasil kesehatan tersebut.

Ada kemungkinan orang yang lebih sehat sejak awal memang lebih mampu berkebun secara rutin. Faktor lain seperti aktivitas fisik secara keseluruhan, pola makan, kondisi sosial, lingkungan tempat tinggal, dan kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi hasil penelitian.

Studi Lothian Birth Cohort tetap menarik karena peneliti sudah memperhitungkan sejumlah faktor lain dan hubungan antara kebiasaan berkebun dengan risiko kematian masih terlihat. Namun, hasil tersebut tidak berarti setiap orang yang mulai berkebun akan otomatis memiliki usia hidup lebih panjang.

Tetap Layak Dicoba

Dibandingkan disebut sebagai “rahasia panjang umur”, berkebun menurut temuan ilmiah lebih tepat sebagai bagian dari gambaran mengenai penuaan sehat. Aktivitas fisik, waktu di ruang hijau, stimulasi mental, interaksi sosial, serta kesempatan untuk menanam dan mengonsumsi bahan pangan segar dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan.

Berkebun pun tidak harus berarti memiliki halaman luas. Merawat tanaman dalam pot, menanam sayuran di halaman, menyiram tanaman, atau mengurus kebun kecil di rumah dapat menjadi cara sederhana untuk membuat tubuh tetap aktif.

Jadi, belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa berkebun secara langsung membuat seseorang panjang umur. Namun, penelitian yang ada menunjukkan hubungan yang menarik antara kebiasaan tersebut dengan aktivitas fisik, kesehatan mental, dan sejumlah indikator penuaan sehat.