Navaswara.com – Pagi di desa sering kali dimulai dalam kesunyian yang menenangkan. Embun masih menempel di pucuk-pucuk padi, sementara langkah pelan para petani mulai menyusuri pematang sawah. Mereka membawa cangkul, benih, dan harapan—harapan yang bukan hanya untuk keluarga mereka, tetapi untuk jutaan masyarakat Indonesia yang bergantung pada hasil kerja sunyi itu.
Di balik hamparan hijau sawah desa, tersimpan peran besar yang sering luput dari sorotan. Ketahanan pangan Indonesia, pada hakikatnya, tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi melalui ketekunan para petani desa yang setiap hari merawat tanah dengan kesabaran.
Desa adalah jantung produksi pangan nasional. Dari sanalah keberlangsungan hidup bangsa dijaga.
Petani Desa: Penjaga Keberlangsungan Hidup Bangsa
Sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Indonesia berasal dari wilayah pedesaan. Produksi beras, sayuran, buah, hingga komoditas hortikultura tumbuh dari kerja keras petani yang menjaga siklus pertanian secara turun-temurun.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menyerap sekitar 29 persen tenaga kerja nasional. Angka ini menegaskan bahwa desa bukan hanya ruang produksi pangan, tetapi juga ruang kehidupan bagi jutaan keluarga Indonesia.
Produksi padi nasional bahkan mampu mencapai puluhan juta ton setiap tahunnya, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun di balik angka tersebut, terdapat kisah panjang tentang ketekunan dan ketahanan petani desa menghadapi berbagai tantangan.
Petani bekerja mengikuti ritme alam. Mereka menghadapi ketidakpastian cuaca, fluktuasi harga, keterbatasan teknologi, hingga perubahan kondisi lingkungan. Meski demikian, mereka tetap menanam, merawat, dan memanen hasil bumi yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam konteks pembangunan nasional, ketahanan pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial dan politik. Negara yang mampu menjaga ketersediaan pangan secara mandiri memiliki daya tahan lebih kuat menghadapi krisis global.
Ancaman Alih Fungsi Lahan Pertanian
Di tengah peran strategis desa dalam menjaga ketahanan pangan, muncul tantangan besar yang semakin nyata: alih fungsi lahan pertanian. Pertumbuhan kawasan perkotaan, pembangunan industri, serta kebutuhan infrastruktur sering kali mendorong perubahan fungsi lahan produktif menjadi kawasan non-pertanian.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia diperkirakan kehilangan sekitar 100 ribu hektare lahan sawah setiap tahun. Fenomena ini menjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan produksi pangan nasional.
Alih fungsi lahan bukan sekadar persoalan perubahan tata ruang. Ia berdampak langsung terhadap kapasitas produksi pangan, kesejahteraan petani, serta keberlanjutan ekosistem desa. Jika tren ini terus berlanjut, ketahanan pangan nasional berpotensi menghadapi tekanan yang semakin besar di masa depan.
Pemerintah telah berupaya menjaga keberlangsungan lahan pertanian melalui berbagai kebijakan perlindungan lahan pangan berkelanjutan. Namun keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku pembangunan lainnya.
Desa memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian melalui pengelolaan ruang berbasis kebutuhan masyarakat lokal.
Regenerasi Petani: Tantangan Masa Depan Desa
Selain persoalan lahan, sektor pertanian juga menghadapi tantangan regenerasi petani. Saat ini, sebagian besar petani Indonesia didominasi kelompok usia di atas 45 tahun. Sementara itu, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian cenderung menurun.
Modernisasi sering mendorong migrasi tenaga kerja muda ke kota, meninggalkan sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung desa. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat menimbulkan kekosongan regenerasi petani dalam beberapa dekade mendatang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mulai mendorong pendekatan baru dalam pembangunan pertanian desa. Pemanfaatan teknologi digital, mekanisasi pertanian, serta pengembangan kewirausahaan berbasis pertanian menjadi strategi untuk menarik minat generasi muda.
Melalui program pemberdayaan desa yang dikembangkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, pembangunan ekonomi pedesaan diarahkan untuk menciptakan peluang usaha yang lebih menjanjikan bagi generasi muda.
Pendekatan ini menempatkan pertanian bukan lagi sebagai pekerjaan tradisional semata, tetapi sebagai sektor strategis yang memiliki potensi inovasi dan nilai ekonomi tinggi.
Desa sebagai Pilar Kemandirian Pangan Nasional
Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Desa memiliki potensi besar untuk mewujudkan kemandirian tersebut karena memiliki sumber daya alam, tenaga kerja, serta pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Pembangunan desa saat ini semakin menekankan pentingnya diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Pengembangan komoditas pangan alternatif, penguatan lumbung pangan desa, serta pertanian berkelanjutan menjadi bagian dari strategi nasional menjaga stabilitas pangan.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan lingkungan desa.
Sawah dan Ladang sebagai Simbol Ketahanan Negara
Sawah dan ladang desa bukan sekadar ruang produksi pangan. Ia adalah simbol ketahanan bangsa yang dibangun melalui kerja keras, kesabaran, dan kearifan lokal.
Setiap bulir padi yang dipanen petani desa mengandung cerita tentang perjuangan panjang menjaga kehidupan. Ketahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi juga melalui kemampuan menjaga kebutuhan pangan masyarakat.
Desa mengajarkan bahwa keberlangsungan hidup bangsa dimulai dari tanah yang diolah dengan penuh tanggung jawab.
Dari Desa, Bangsa Belajar Bertahan dan Bertumbuh
Ketahanan pangan menunjukkan bahwa desa memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nasional. Dari desa, bangsa ini belajar tentang arti kemandirian, keberlanjutan, dan keseimbangan hidup dengan alam.
Namun peran desa tidak berhenti pada sektor pertanian. Di balik ladang dan sawah, desa juga menyimpan potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi rakyat melalui pengembangan usaha lokal, industri kreatif, serta pariwisata berbasis budaya.
Pada episode berikutnya, kita akan menelusuri bagaimana desa berkembang menjadi pusat ekonomi masyarakat yang bertumpu pada potensi lokal. Dari desa, lahir berbagai usaha rakyat yang tidak hanya menghidupi masyarakat setempat, tetapi juga memperkuat perekonomian nasional bahkan menembus pasar global.

