Art Jakarta Papers 2026 Hadir untuk Merayakan Kertas sebagai Medium, Memori, dan Masa Depan Seni Rupa

Navaswara.com –  Di tengah kehidupan perkotaan yang erat dengan teknologi, Art Jakarta Papers 2026 hadir dan mengajak kita untuk kembali menyentuh akar seni rupa melalui medium yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kertas. Bukan sekadar alas gambar, kertas dihadirkan sebagai medium yang hidup, sarat makna, dan mampu merekam perjalanan gagasan, emosi, hingga ingatan.

Menjadi bagian dari Art Jakarta, Art Jakarta Papers 2026 menegaskan posisinya sebagai platform penting bagi seniman, kolektor, kurator, hingga para penikmat seni untuk melihat praktik seni rupa berbasis kertas dari sudut pandang yang lebih luas.

Selama ini, kertas dianggap material yang rapuh, mudah rusak, dan bersifat sementara. Namun, di mata para perupa justru dari karakter itulah kekuatannya lahir. Dalam Art Jakarta Papers 2026, kertas ditampilkan sebagai medium yang lentur, mampu menampung berbagai ekspresi, mulai dari gambar, sketsa, cetak grafis, kolase, hingga instalasi dan karya tiga dimensi. Para seniman mengeksplorasi tekstur, lapisan, lipatan, bahkan bekas sobekan sebagai bagian dari narasi visual yang utuh.

Melalui pendekatan ini, pengunjung diajak memahami bahwa kertas bukan hanya permukaan, melainkan ruang dialog antara ide dan tangan, antara konsep dan intuisi. Setiap guratan pensil, sapuan tinta, atau potongan kertas membawa jejak waktu dan keputusan artistik yang tidak bisa direplikasi secara instan.

Di tahun 2026, ketika teknologi kecerdasan buatan, realitas virtual, dan media digital semakin mengaburkan batas, Art Jakarta Papers justru mengambil posisi yang membumi. Pameran ini tidak menolak transformasi, tetapi menawarkan keseimbangan, bahwa di tengah kemudahan dan kecepatan, masih ada nilai pada proses yang lambat, manual, dan penuh perenungan.

Di pameran Art Jakarta Papers 2026, kertas menjadi simbol resistensi sekaligus adaptasi. Banyak seniman yang memadukan teknik tradisional dengan gagasan kontemporer, bahkan isu-isu seperti lingkungan, identitas, dan kenangan personal melalui medium yang tampak sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *