Angkat Tumit Disebut Punya Efek pada Gula Darah Setelah Makan

Navaswara.com – Resistensi insulin menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, sehingga gula darah sulit masuk ke dalam sel dan menumpuk di aliran darah. Namun, siapa sangka bahwa gerakan sederhana seperti berjinjit atau angkat tumit bisa membantu mengatasi masalah ini?

Mengapa Otot Betis Istimewa?

Otot betis, khususnya otot soleus yang terletak di bagian dalam betis, memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki otot lain. Otot ini mampu melakukan metabolisme oksidatif berkelanjutan tanpa mudah lelah. Artinya, otot soleus bisa terus bekerja membakar energi dalam waktu lama, bahkan saat kita melakukan aktivitas ringan seperti duduk.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal iScience menemukan fakta menarik. Aktivasi otot soleus melalui gerakan seperti calf raises dapat meningkatkan pembakaran lemak hingga dua kali lipat selama puasa. Lebih mengesankan lagi, gerakan ini mampu menurunkan lonjakan gula darah setelah makan hingga 52% dan mengurangi kebutuhan insulin sebanyak 60%.

Profesor Marc Hamilton, peneliti dari University of Houston yang memimpin studi tersebut, menjelaskan bahwa otot soleus memiliki kapasitas unik. “Otot soleus dapat meningkatkan metabolisme oksidatif untuk memperbaiki regulasi glukosa darah dengan cara yang lebih efektif,” ungkapnya. Hamilton juga menekankan bahwa pendekatan ini berbeda dari metode konvensional karena tidak bergantung pada cadangan glikogen otot.

Bagaimana Calf Raises Lawan Resistensi Insulin?

Saat otot soleus berkontraksi secara berirama, terjadi peningkatan pengambilan glukosa dari aliran darah ke dalam sel otot. Proses ini tidak memerlukan insulin dalam jumlah besar, sehingga membantu meringankan beban pankreas dalam memproduksi insulin.

Otot soleus yang aktif juga meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Ini berarti sel-sel tubuh menjadi lebih responsif terhadap sinyal insulin, sehingga gula darah bisa masuk ke sel dengan lebih efisien. Dalam jangka panjang, ini membantu mencegah dan mengelola diabetes tipe 2.

Hal menariknya, manfaat calf raises bertahan selama berjam-jam setelah latihan. Berbeda dengan latihan kardio intensif yang efeknya singkat, aktivasi otot soleus memberikan perlindungan metabolik yang berkelanjutan. Menurut tim peneliti, aktivitas ini dapat mempertahankan metabolisme oksidatif yang tinggi selama berjam-jam, bahkan tanpa gerakan tambahan.

Cara Melakukan Calf Raises dengan Benar

Untuk mendapatkan manfaat optimal, lakukan seated calf raises atau angkat tumit sambil duduk. Caranya cukup mudah:

Pertama, duduk di kursi dengan kedua kaki menapak rata di lantai. Pastikan posisi tubuh tegak dan nyaman. Kemudian, angkat tumit perlahan sambil menjaga jari kaki tetap menempel di lantai. Tahan posisi ini sejenak, lalu turunkan tumit kembali dengan perlahan. Ulangi gerakan ini secara berirama.

Waktu terbaik melakukan latihan ini adalah 10-15 menit setelah makan. Durasi ini cukup untuk menurunkan lonjakan gula darah pascamakan yang sering menjadi masalah bagi penderita diabetes. Yang menggembirakan, gerakan ini bisa dilakukan sambil bekerja di depan komputer, menonton televisi, atau bahkan saat rapat virtual.

Manfaat Tambahan untuk Kesehatan Metabolik

Selain melawan resistensi insulin, calf raises juga membantu meningkatkan metabolisme lemak. Penelitian menunjukkan efektivitasnya bahkan melebihi metode populer seperti puasa intermiten dalam meningkatkan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Hamilton menegaskan bahwa penemuan ini membuka peluang baru. “Kami tidak pernah membayangkan bahwa otot ini memiliki kapasitas seperti ini,” katanya, menambahkan bahwa metode ini sangat menjanjikan untuk individu yang mengalami gangguan metabolisme.

Bagi penderita diabetes atau prediabetes, calf raises menawarkan solusi praktis yang mudah diintegrasikan dalam rutinitas harian. Tidak perlu peralatan khusus, tidak memakan waktu lama, dan bisa dilakukan kapan saja.

Tidak semua solusi kesehatan harus rumit atau memakan waktu. Gerakan sederhana ini memberikan dampak signifikan terhadap kontrol gula darah dan sensitivitas insulin. Namun, tetap konsultasikan dengan dokter sebelum memulai program latihan baru, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu. Kombinasikan dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif untuk hasil terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *