Navaswara.com – Tren mengonsumsi mentega (butter) dan margarin secara langsung dalam jumlah banyak belakangan ramai di media sosial. Fenomena ini pun mendapat perhatian dari Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Prof Sri Anna Marliyati.
Ia mengimbau masyarakat tidak asal mengikuti tren tanpa memahami risiko dari kebiasaan tersebut. Menurutnya, mentega dan margarin merupakan sumber lemak yang padat energi sehingga tidak perlu dikonsumsi secara langsung dalam jumlah banyak.
“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” jelasnya.
Meski begitu, Prof Sri Anna mengatakan, margarin tidak serta-merta bisa dikategorikan sebagai makanan yang buruk. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah jenis asam lemak, jumlah yang dikonsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.
Margarin lunak, terutama yang dibuat dari minyak nabati, umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan mentega. Sementara itu, mentega mengandung lebih banyak lemak jenuh.
Namun, kandungan asam lemak trans juga tetap perlu diperhatikan saat memilih produk margarin.
Karena itu, Prof Sri Anna menyarankan margarin digunakan secukupnya, misalnya sebagai olesan roti atau untuk menumis sayuran.
Penggunaan margarin dalam jumlah berlebihan pada makanan tertentu, seperti martabak manis, juga perlu diperhatikan karena dapat menambah asupan lemak dan energi.
Konsumsi mentega dalam jumlah besar sekaligus juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada pencernaan.
Kandungan lemak yang tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung. Akibatnya, seseorang bisa merasa sangat kenyang, begah, mual, atau mengalami gangguan pencernaan tertentu.
“Makanan yang sangat berlemak juga merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, konsumsi makanan berlemak dapat memicu nyeri atau ketidaknyamanan pada perut,” tambahnya.
Selain efek langsung setelah makan, konsumsi makanan berlemak juga dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah untuk sementara. Kondisi ini dikenal sebagai postprandial lipemia.
“Jika pola konsumsi tersebut berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta metabolik,” tambahnya.
Prof Sri Anna menjelaskan, pembatasan konsumsi mentega terutama perlu diperhatikan oleh orang dengan kondisi tertentu. Di antaranya adalah gangguan kadar lemak darah atau dislipidemia, penyakit jantung koroner atau risiko penyakit kardiovaskular tinggi, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, obesitas, perlemakan hati (fatty liver), serta riwayat batu empedu.
Meski memiliki risiko jika dikonsumsi berlebihan, bukan berarti mentega dan margarin harus sepenuhnya dihindari. Keduanya masih dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi dalam jumlah terbatas.
Prof Sri Anna mengatakan, yang terpenting adalah menerapkan prinsip gizi seimbang dengan memenuhi kebutuhan energi, mengonsumsi protein berkualitas, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak.
“Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar,” ujarnya.
Secara umum, asupan lemak dianjurkan sekitar 20–30 persen dari total energi harian. Sumber lemak tidak jenuh sebaiknya lebih diutamakan, bukan dengan mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar seperti tren yang beredar di media sosial.

