Navaswara.com – Fenomena downgrading atau perubahan pilihan konsumsi ke barang dan layanan yang lebih murah belakangan ramai diperbincangkan. Perubahan ini terlihat dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari memilih produk dengan harga lebih terjangkau, mengurangi frekuensi makan dan rekreasi di luar rumah, hingga mengganti kendaraan dengan alternatif yang lebih murah.
Kondisi tersebut terjadi ketika pendapatan masyarakat relatif stagnan, sementara kebutuhan terus meningkat. Ketidakpastian ekonomi juga membuat sebagian rumah tangga mulai menyesuaikan pola belanja untuk menjaga kebutuhan utama tetap terpenuhi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., menilai downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan sekadar pilihan gaya hidup.
“Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujar Wisnu, Rabu (7/10).
Menjaga Konsumsi Kebutuhan Utama
Menurut Wisnu, rumah tangga cenderung berusaha mempertahankan konsumsi yang dianggap penting, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan. Di sisi lain, pengeluaran yang lebih fleksibel atau bersifat tersier mulai dikurangi ketika pendapatan mengalami tekanan.
Dalam teori ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel.
Dengan demikian, masyarakat melakukan penyesuaian bukan semata-mata karena ingin berhemat, tetapi karena ruang untuk mengatur pengeluaran semakin terbatas.
Jadi Alarm bagi Pemerintah Jika Meluas
Wisnu menilai persoalan utama bukan terletak pada praktik downgrading, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya.
Jika hanya dialami sebagian kecil masyarakat, penyesuaian konsumsi masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara. Namun, situasinya berbeda jika fenomena tersebut meluas, terutama di kalangan kelas menengah yang memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi nasional.
“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.
Wisnu mengungkapkan, ada dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading.
Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi ini membuat kemampuan belanja rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak berubah.
Kedua, ekspektasi ekonomi yang menurun. Masyarakat menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi juga karena khawatir terhadap kondisi ekonomi ke depan, termasuk keamanan pekerjaan.
Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya rutin mulai berubah menjadi lebih berhati-hati.
“Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.
Kendati demikian, Wisnu menilai tidak semua praktik downgrading menunjukkan penurunan kesejahteraan.
Penyesuaian konsumsi dapat terjadi secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga berubah. Misalnya, ketika anak telah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun.
Sebaliknya, downgrading menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran.
“Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” jelasnya.
Bisa Berdampak ke Ekonomi Lebih Luas
Wisnu menegaskan, tekanan daya beli yang berlangsung dalam waktu lama dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas.
Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa berpotensi ikut melambat. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat pelaku usaha menunda ekspansi maupun perekrutan tenaga kerja.
Tekanan menjadi semakin serius ketika rumah tangga mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” tutupnya

