Navaswara.com – Atlet asal Australia, Joanna Wietrzyk, akhirnya memilih mundur secara retroaktif dari perlombaan HYROX Beijing dan merelakan poin yang didapatnya.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak yang terdampak atas keputusannya yang tetap melanjutkan perlombaan meski mengalami gangguan kesehatan hingga buang air besar saat perlombaan. Keputusan tersebut kemudian membuatnya menjadi sorotan setelah sejumlah footage dari arena pertandingan viral di media sosial.
“Saya bertanggung jawab atas pilihan untuk melanjutkan (lomba) dan minta maaf sekali atas ketidaknyamanan dan gangguan yang ditimbulkan,” tulis Joanna dalam pernyataan pribadi yang diunggah di media sosial (17/9).
Di awal perlombaan, Joanna mengaku merasa bugar dan sehat. Ia tak menyangka akan mengalami gangguan kesehatan hingga akhirnya mengalami diare di tengah lomba.
Kondisi tersebut kemudian terekam dan tersebar luas di media sosial. Meski mengalami insiden tersebut, Joanna memilih tetap melanjutkan perlombaan hingga garis finis.
Dalam pernyataannya, Joanna menyadari bahwa keputusannya untuk terus berlomba berdampak bukan hanya pada dirinya. Karena itu, ia meminta maaf kepada semua pihak yang terdampak.
Pengalaman tersebut juga menjadi refleksi bagi Joanna. Ia menyadari ada banyak hal yang lebih penting daripada sebuah perlombaan dan seharusnya tahu kapan harus berhenti.
“Sebagai refleksi saya memutuskan untuk secara retroaktif mundur dari lomba dan merelakan poin yang saya dapat,” tegasnya.
Selain memutuskan mundur dari perlombaan, Joanna juga memilih untuk sementara menarik diri dari kegaduhan yang muncul setelah insiden tersebut.
Ia ingin memanfaatkan waktu tersebut untuk recovery, refleksi, serta fokus pada dirinya sendiri dan keluarganya.
Jadi Sorotan usai Video Viral
Joanna menjadi perbincangan setelah sejumlah footage yang beredar di media sosial memperlihatkan dirinya berlaga di HYROX Beijing pada Sabtu (12/9) dalam kondisi diduga mengalami diare parah.
Dalam rekaman yang beredar, Joanna terlihat tetap berlari dan menyelesaikan sejumlah tantangan dalam perlombaan meski mengalami insiden tersebut.
Ia bahkan finis pertama di kategori PRO Women dengan catatan waktu yang impresif.
Keputusan Joanna untuk tetap melanjutkan lomba kemudian menjadi sorotan. Salah satu persoalan yang diperdebatkan adalah apakah kondisi tersebut seharusnya membuatnya dihentikan dari perlombaan demi mencegah risiko terhadap peserta lain maupun area pertandingan.
HYROX sendiri sebenarnya memiliki aturan terkait biokontaminasi. Dalam rulebook yang berlaku sebelumnya, terdapat penalti langsung bagi peserta yang meludah maupun membuang kotoran hidung.
Namun, tidak terdapat aturan eksplisit yang secara spesifik mengatur diare atau buang air besar saat perlombaan.
Kondisi tersebut juga berbeda dengan pelanggaran yang dilakukan secara sengaja karena diare pada dasarnya dapat terjadi secara involuntary atau tidak disengaja.
HYROX Janji Perbaiki Rulebook
Co-founder HYROX, Moritz Furste, kemudian ikut merespons kontroversi yang muncul setelah kejadian tersebut.
Mantan atlet hoki Olimpiade itu mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan dan memperbarui aturan perlombaan untuk mencegah situasi serupa terjadi di kemudian hari.
“Tentu saja, kami mulai memperbaiki proses penyelenggaraan acara, serta membuat perubahan rulebook segera,” tulis Moritz dalam unggahannya di Instagram.
Menyusul insiden tersebut, sejumlah media melaporkan HYROX telah memperbarui aturan perlombaan.
Dikutip dari ESPN, aturan baru memberikan wewenang kepada Race Director untuk mengeluarkan atlet apabila darah, muntahan, urine, atau feses menimbulkan risiko terhadap kesejahteraan atau kontaminasi bagi atlet yang bersangkutan maupun peserta lain.
Dalam kondisi tersebut, atlet akan dicatat dengan status Did Not Finish (DNF).
Perubahan itu juga tercantum dalam Rulebook HYROX season 2026/2027 yang telah diperbarui di situs resmi penyelenggara.
Salah satu perubahan terdapat pada Section 12.3 tentang Penalties.
“If a racer’s blood, vomit, urine, or faeces poses a welfare or contamination risk to the racer or to other racers, a Race Director may withdraw the racer from the race on medical grounds, in line with HYROX’s medical and hygiene SOPs. Any such withdrawal is recorded on the leaderboard as Did Not Finish (DNF),” tulis aturan tersebut.
Dengan perubahan itu, Race Director kini memiliki kewenangan untuk menarik peserta dari perlombaan apabila kondisi tubuhnya dinilai menimbulkan risiko kesehatan atau kontaminasi.
Bagi Joanna, insiden di Beijing kini menjadi bahan refleksi. Ia mengakui keputusan untuk terus berlomba merupakan pilihannya sendiri dan memilih bertanggung jawab dengan mundur secara retroaktif dari perlombaan.
Untuk sementara, ia juga memilih menjauh dari kegaduhan yang muncul setelah kejadian tersebut dan fokus pada pemulihan, refleksi, diri sendiri, serta keluarganya.
