Stevia untuk Pengganti Gula, Kenali Kandungan, Manfaat, dan Catatannya

Navaswara.com – Bagi yang sedang mengurangi konsumsi gula tetapi masih menyukai rasa manis, stevia kerap menjadi salah satu pilihan. Pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana tersebut semakin mudah ditemukan dalam berbagai produk makanan dan minuman. Namun, mengenal stevia tidak berhenti pada label “alami” atau “rendah kalori”.

1. Berasal dari Amerika Selatan

Stevia bukan tanaman baru yang muncul seiring tren pemanis rendah kalori. Stevia rebaudiana telah lama dimanfaatkan masyarakat Paraguay dan Brasil sebagai pemanis alami. Tanaman tersebut kemudian diperkenalkan dalam literatur botani oleh ahli botani Moisés Santiago Bertoni pada akhir abad ke-19.

Pemanfaatan stevia kemudian berkembang ke berbagai negara, terutama sebagai bahan pemanis pengganti gula. Popularitasnya meningkat seiring perhatian terhadap konsumsi gula tambahan dan kebutuhan terhadap pemanis dengan kalori lebih rendah.

2. Rasa manis berasal dari steviol glikosida

Rasa manis pada stevia berasal dari kelompok senyawa yang disebut steviol glikosida. Beberapa jenis yang dikenal antara lain steviosida dan rebaudiosida, termasuk rebaudiosida A. Senyawa tersebut memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi daripada sukrosa sehingga hanya diperlukan dalam jumlah kecil.

Steviol glikosida juga memiliki karakteristik metabolisme yang berbeda dari gula biasa. Tubuh tidak mengubah senyawa tersebut menjadi glukosa dalam proses pencernaan, sehingga pengaruhnya terhadap kadar gula darah jauh lebih kecil dibandingkan sukrosa.

3. Kalori sangat rendah

Tingkat kemanisan stevia yang tinggi membuat penggunaannya dapat dilakukan dalam jumlah sangat sedikit. Karena itu, steviol glikosida hampir tidak memberikan kontribusi kalori dalam jumlah yang berarti ketika digunakan sebagai pemanis.

Meski begitu, produk yang disebut “stevia” di pasaran tidak selalu hanya berisi ekstrak stevia. Beberapa produk menggunakan campuran steviol glikosida dengan bahan lain, sehingga kandungan kalori dan komposisinya dapat berbeda. Label nutrisi tetap perlu diperiksa sebelum membeli.

4. Dapat menjadi pilihan untuk mengurangi gula

Stevia dapat digunakan sebagai salah satu cara mengurangi penggunaan gula tambahan, termasuk pada minuman maupun makanan tertentu. Pemanis tersebut tidak memberikan efek peningkatan gula darah seperti sukrosa dalam jumlah yang sama.

Bagi penyandang diabetes, penggunaan stevia tetap perlu ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan. Pemilihan pemanis tidak serta-merta membuat suatu makanan atau minuman menjadi bebas risiko terhadap kadar gula darah, terutama jika masih mengandung karbohidrat atau gula dari bahan lain.

5. Tingkat kemanisannya sangat tinggi

Steviol glikosida memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 hingga 350 kali sukrosa, bergantung pada jenis senyawa dan konsentrasinya. Karena itu, takaran stevia tidak dapat disamakan dengan gula pasir dalam resep.

Karakter rasa stevia juga berbeda dari sukrosa. Sebagian orang dapat merasakan sedikit sensasi pahit atau rasa khas setelah mengonsumsinya, terutama pada konsentrasi tertentu. Perbedaan tersebut membuat penerimaan terhadap stevia cukup subjektif.

6. Keamanan telah melalui evaluasi

Keamanan steviol glikosida telah dievaluasi oleh sejumlah lembaga pangan dan kesehatan di berbagai negara. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA pada 2008 menerima pemberitahuan Generally Recognized as Safe atau GRAS untuk penggunaan tertentu dari beberapa steviol glikosida dengan kemurnian tinggi.

Status tersebut berlaku untuk penggunaan dan jenis senyawa tertentu, bukan berarti semua bentuk tanaman stevia atau seluruh produk berbahan stevia otomatis memiliki status yang sama. Jenis serta tingkat kemurnian pemanis tetap menjadi bagian penting dalam penilaian keamanan.

7. Tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh

Stevia umumnya dapat dikonsumsi dalam batas penggunaan yang ditetapkan untuk steviol glikosida. Namun, respons setiap orang terhadap pemanis dapat berbeda. Produk yang mengandung stevia juga dapat membawa bahan tambahan lain yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang dengan alergi atau sensitivitas terhadap bahan tertentu.

Bila stevia digunakan sebagai pengganti gula, pilihan tersebut sebaiknya tetap ditempatkan dalam pola makan yang seimbang. Mengurangi gula tambahan dapat menjadi langkah yang bermanfaat, tetapi kualitas keseluruhan makanan dan minuman tetap berperan dalam menjaga kesehatan.