Navaswara.com – Calon Arang selama ini punya tempat yang nyaris tak tergoyahkan sebagai sosok jahat dalam ingatan kolektif masyarakat. Janda sakti dari Desa Girah itu dikenal sebagai perempuan penebar teluh yang membuat warga ketakutan. Namanya bahkan kerap hadir sebagai simbol kengerian dalam berbagai penceritaan legenda Nusantara.
Namun, bagaimana jika Calon Arang tidak lahir sebagai perempuan jahat? Bagaimana jika sosok yang kemudian ditakuti itu mulanya hanyalah seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya, tetapi terus-menerus berhadapan dengan stigma dan penghakiman lingkungan?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab EKI Dance Company bersama Indonesia Kaya melalui Musikal “Calon Arang”. Legenda klasik tersebut diolah menjadi pertunjukan musikal modern yang memadukan teater, musik, tari, animasi, serta teknologi panggung. Pementasan digelar 17–20 September 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dalam versi cerita yang selama ini dikenal, Calon Arang tinggal di Desa Girah bersama putrinya, Ratna Manggali. Kecantikan Ratna membuat banyak pemuda tertarik. Namun, tak ada yang berani meminangnya. Penyebabnya sederhana. Mereka takut kepada Calon Arang.
Status sebagai janda sekaligus reputasinya sebagai perempuan sakti membuat Ratna ikut terkena dampak. Warga bahkan menggunjing bahwa Ratna merupakan perempuan yang tidak laku.
Gunjingan itu sampai ke telinga Calon Arang. Sang ibu murka. Teluh kemudian ditebar. Warga Girah menjadi korban dan kekacauan pun terjadi.
Raja Airlangga akhirnya turun tangan. Mpu Baradah diminta menghentikan Calon Arang. Sang empu kemudian mengutus muridnya, Bahula, untuk mengambil kitab sakti milik Calon Arang.
Bahula mendekati Ratna Manggali. Dari sinilah konflik berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih rumit: antara cinta, kepentingan, pengkhianatan, dan ambisi untuk menghentikan kekuatan Calon Arang.
Musikal ini mengambil cerita tersebut, lalu membalik sudut pandangnya.
Calon Arang tidak hanya ditempatkan sebagai sosok antagonis. Sebelum dikenal sebagai sosok yang menebar ketakutan, Calon Arang digambarkan sebagai seorang ibu yang berusaha menjaga bayinya.
Perundungan karena statusnya sebagai janda menjadi salah satu titik penting perubahan karakter tersebut.
Ia kemudian bertapa dan berhasil mengamalkan kitab suci milik Dewi Durga. Namun, pengkhianatan dari orang terdekat membuat perjalanan spiritual itu berubah arah. Calon Arang pun menjelma menjadi sosok yang selama ini dikenal dalam legenda.
Baik dan Jahat Tidak Selalu Hitam-Putih
“Yang jahat mati karena cinta. Yang baik hidup penuh dusta.”
Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk melihat kisah Calon Arang dengan cara berbeda.
Sutradara sekaligus pemeran utama, Ara Ajisiwi, tidak ingin membawa penonton hanya pada pertanyaan siapa yang benar dan siapa yang salah. Batas tersebut justru dibuat lebih kabur.
“Kisah Calon Arang mengajak kita merenungkan kembali batasan antara baik dan jahat secara lebih manusiawi,” kata Ara.
Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam bentuk pertunjukan. Cerita klasik tidak disajikan dengan bahasa panggung yang berat. Musik yang catchy, koreografi dinamis, visual modern, dan animasi menjadi bagian dari upaya mendekatkan legenda Nusantara kepada penonton masa kini.
Bahkan, penonton diajak berinteraksi langsung dengan pemeran Calon Arang dalam salah satu bagian pertunjukan.
Format itu membuat pertunjukan terasa lebih cair. Ada drama, musik, hingga tari. Ada pula humor dan interaksi yang menjaga ritme pertunjukan tetap hidup.
Di saat bersamaan, kisah Calon Arang tetap membawa persoalan yang relevan, bagaimana sebuah stigma dapat melekat kepada seseorang dan bahkan memengaruhi cara lingkungan memperlakukan generasi berikutnya.
Tiga Dekade EKI di Panggung Pertunjukan
Musikal Calon Arang sekaligus menjadi penanda 30 tahun perjalanan EKI Dance Company.
Didirikan pada 1996 oleh mendiang Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto, EKI dikenal sebagai kelompok seni pertunjukan yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada awal perjalanan, EKI banyak merespons fenomena sosial dan persoalan aktual melalui panggung. Belakangan, mereka semakin intens mengolah cerita tradisi Nusantara menjadi karya pop-kultural.
Sejumlah judul seperti “Ken Dedes” (2023), “Perempuan Punya Cerita” (2024–2025), dan “Lutung Kasarung” (2024–2026) menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
“Selama tiga dekade berkarya, EKI telah melahirkan lebih dari 50 judul musikal panggung dan film,” ujar produser Musikal “Calon Arang”, Alim Sudio.
Menurut dia, “Calon Arang” bukan sekadar produksi baru. Pertunjukan itu juga menjadi bentuk perayaan perjalanan EKI sekaligus apresiasi kepada penonton yang selama ini mengikuti karya-karya mereka.
Di panggung, Calon Arang diperankan Ara Ajisiwi. Ratna Manggali dimainkan Nala Amrytha, Bahula oleh Gerry Gerardo, dan Barada oleh Gabriel Harvianto. Sementara itu, seniman senior Sita Nursanti tampil sebagai Dewi Durga.
Legenda Lama, Tafsir Baru
Calon Arang merupakan salah satu cerita rakyat Nusantara yang paling banyak ditafsirkan ulang. Cerita tersebut terus menemukan bentuk baru.
Dengan kemasan musikal modern, EKI membawa legenda tersebut keluar dari ruang nostalgia. Musikal Calon Arang tidak lagi hanya menjadi cerita tentang bagaimana mengalahkan seorang perempuan sakti.
Namun, menjadi cerita tentang bagaimana seseorang bisa berubah ketika terus-menerus ditempatkan sebagai “yang salah”. Dan, di situlah Musikal “Calon Arang” menemukan relevansinya, legenda lama ternyata masih bisa berbicara tentang persoalan hari ini.
