Navaswara.com — Kram tiba-tiba di betis saat jogging pagi, kepala terasa berkabut menjelang sore meski sudah cukup tidur, atau jantung berdebar ketika sedang duduk santai kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Banyak orang lalu mengaitkannya dengan kurang minum air putih. Padahal, tubuh juga membutuhkan elektrolit, mineral bermuatan listrik yang berperan dalam berbagai proses penting.
Natrium, kalium, magnesium, dan kalsium merupakan empat elektrolit utama yang membantu menjaga kerja tubuh. Mineral tersebut berperan dalam penghantaran sinyal saraf, kontraksi dan relaksasi otot, sekaligus mengatur keseimbangan cairan di dalam maupun di luar sel. Elektrolit hilang melalui keringat, urine, dan proses tubuh sehari-hari, kemudian digantikan lewat makanan serta minuman.
Persoalan dapat muncul ketika kehilangan elektrolit berlangsung lebih cepat daripada penggantiannya. Kondisi tersebut dapat terjadi saat berolahraga berat, berada dalam cuaca panas, atau mengalami diare dan muntah berkepanjangan. Tubuh kemudian mulai menunjukkan sejumlah perubahan, meski tandanya tidak selalu langsung terasa sebagai rasa haus.
Salah satu dampaknya dapat berkaitan dengan fungsi kognitif. Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Nutrition pada 2011 oleh tim dari University of Connecticut menguji 26 pria muda yang mengalami kehilangan cairan ringan, sekitar satu hingga dua persen dari berat badan melalui keringat.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan performa kognitif dan suasana hati dibandingkan kondisi ketika tubuh terhidrasi secara normal. Tingkat kehilangan cairan tersebut masih jauh dari dehidrasi berat. Temuan itu memberi gambaran bahwa rasa berkabut, sulit berkonsentrasi, atau perubahan suasana hati dapat muncul ketika tubuh mulai kehilangan cairan.
Kram otot juga kerap langsung dikaitkan dengan kekurangan elektrolit. Namun, penelitian menunjukkan hubungan tersebut lebih rumit. Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine membandingkan kadar elektrolit darah pada atlet yang mengalami kram saat bertanding dengan atlet yang tidak mengalaminya.
Hasilnya, kadar natrium pada atlet yang mengalami kram justru cenderung lebih rendah, sedangkan kadar magnesium relatif lebih tinggi. Tinjauan ilmiah lain dalam jurnal Sports Health juga menemukan bahwa bukti yang mendukung teori kehilangan elektrolit maupun gangguan kendali saraf terhadap otot masih belum kuat. Kram dapat berkaitan dengan kelelahan otot dan gangguan sinyal saraf, dengan elektrolit sebagai salah satu faktor yang mungkin berperan.
Hubungan elektrolit dengan kerja jantung memiliki mekanisme yang lebih jelas. Kalium membantu menjaga kestabilan aktivitas listrik yang mengatur detak jantung. Ketika kadar kalium dalam darah turun terlalu rendah atau mengalami hipokalemia, fungsi pompa natrium-kalium pada sel otot jantung dapat terganggu dan memengaruhi keseimbangan kalsium di dalam sel.
Kondisi tersebut dapat memicu aktivitas listrik jantung yang tidak normal. Tinjauan dalam jurnal Frontiers in Physiology menyebut hipokalemia sebagai salah satu gangguan elektrolit yang umum ditemukan pada pasien rawat inap dan dapat berkaitan dengan aritmia serius dalam kondisi berat. Namun, debar jantung sesaat akibat kehilangan cairan ringan perlu dibedakan dari hipokalemia klinis.
Hipokalemia lebih berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti penggunaan obat diuretik dalam jangka panjang, muntah atau diare berat, maupun gangguan pada ginjal dan jantung. Karena itu, sensasi jantung berdebar tidak serta-merta berarti kadar elektrolit dalam tubuh sedang bermasalah. Penyebabnya dapat beragam dan perlu dilihat bersama gejala maupun kondisi kesehatan lainnya.
Menjaga keseimbangan elektrolit dapat dimulai dari makanan sehari-hari. Pisang dan alpukat menyediakan kalium, sementara kacang-kacangan serta sayuran hijau mengandung magnesium. Susu dan produk olahannya menjadi sumber kalsium. Air kelapa juga mengandung sejumlah elektrolit dan dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan dalam kondisi dehidrasi ringan.
Kebutuhan tersebut dapat berbeda ketika tubuh kehilangan cairan dalam jumlah lebih banyak, misalnya akibat diare, muntah, keringat berlebihan, atau aktivitas fisik intens. Dalam kondisi seperti itu, oralit dapat digunakan sesuai kebutuhan karena mengandung natrium, kalium, dan glukosa dengan komposisi yang membantu penyerapan cairan di saluran cerna.
Gejala seperti kram, kelelahan, sulit berkonsentrasi, maupun jantung berdebar memiliki banyak kemungkinan penyebab. Kurang tidur, stres, aktivitas fisik, konsumsi kafein, obat tertentu, hingga kondisi medis tertentu dapat ikut berperan. Karena itu, menghubungkan setiap keluhan dengan kekurangan elektrolit tanpa pemeriksaan dapat membuat penyebab sebenarnya terlewat.
Keluhan yang muncul berulang, berlangsung lama, atau terasa berat sebaiknya diperiksakan kepada dokter. Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah masalah berkaitan dengan keseimbangan elektrolit atau justru berasal dari kondisi lain. Suplemen elektrolit pun tidak selalu diperlukan, terutama jika kebutuhan mineral masih dapat dipenuhi melalui makanan dan minuman sehari-hari.
