Navaswara.com – Situs Batujaya merupakan salah satu kawasan arkeologi yang menyimpan jejak peradaban Buddha kuno di Pulau Jawa. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Keberadaan kompleks kuno ini menjadi bukti bahwa wilayah pesisir utara Jawa Barat pernah berkembang sebagai pusat aktivitas keagamaan dan kebudayaan sejak berabad-abad lalu.
Kompleks ini berada di tengah hamparan persawahan yang luas, menciptakan pemandangan unik antara warisan sejarah dan kehidupan agraris masyarakat setempat.
Penemuan dan Sejarah Percandian
Keberadaan Situs Batujaya mulai mendapat perhatian luas setelah penelitian arkeologi dilakukan pada tahun 1984. Penelitian tersebut berawal dari laporan masyarakat yang menemukan gundukan tanah berisi susunan bata kuno di area persawahan.
Dari hasil kajian lebih lanjut, para arkeolog akhirnya menemukan bahwa kawasan ini menyimpan struktur candi yang tersebar di berbagai titik.
Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kompleks percandian ini merupakan salah satu situs Buddha tertua di Indonesia. Pembangunan kawasan ini diperkirakan berlangsung sejak abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi dan terus mengalami perkembangan pada abad-abad berikutnya.
Tak hanya itu, para ahli juga mengaitkan keberadaan Batujaya dengan masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara yang pernah berkembang di Jawa Barat. Lokasinya yang dekat dengan jalur perdagangan pantai utara Jawa memungkinkan terjadinya interaksi budaya antara masyarakat lokal dan para pedagang maupun pendatang dari India serta wilayah Asia lainnya.
Kompleks Candi yang Luas
Kawasan Batujaya memiliki total area 337 hektare dengan puluhan titik percandian yang telah teridentifikasi. Di antara berbagai bangunan yang ditemukan, Candi Jiwa dan Candi Blandongan menjadi dua struktur yang paling dikenal.
Candi Jiwa sendiri memiliki bentuk yang unik tanpa tangga dan pintu masuk yang jelas, sementara Candi Blandongan merupakan bangunan terbesar di kawasan tersebut.
Berbeda dengan kebanyakan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibangun menggunakan batu andesit, bangunan di Batujaya sebagian besar menggunakan bata merah. Menariknya, bata-bata tersebut dibuat dengan teknik khusus menggunakan campuran tanah liat dan sekam padi sehingga mampu menghasilkan material yang kuat dan tahan lama.
Menjadi Kawasan Cagar Budaya Nasional
Menjadi saksi bisu peradaban kuno di Indonesia, pemerintah menetapkan Kawasan Percandian Batujaya sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 76/M/2019.
Penetapan ini menjadi langkah penting untuk melindungi situs dari ancaman kerusakan sekaligus mendorong pengembangan kawasan sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan wisata sejarah.
Selain peninggalan masa Hindu-Buddha, wilayah ini juga menyimpan artefak yang menunjukkan keberadaan masyarakat prasejarah, sehingga menjadikan Batujaya sebagai kawasan yang merekam perjalanan panjang sejarah manusia di Jawa Barat.
