Kenali Gejala Kekurangan Vitamin B1, dari Mudah Lelah hingga Gangguan Saraf

Navaswara.com — Tubuh yang mudah lelah, suasana hati yang gampang berubah, hingga kesulitan mengingat sesuatu kerap dianggap sebagai dampak kurang tidur atau aktivitas yang padat. Namun, keluhan tersebut juga bisa berkaitan dengan kekurangan vitamin B1 atau tiamin, nutrisi yang berperan penting dalam membantu tubuh mengolah energi dan menjaga fungsi saraf.

Merujuk MSD Manual dalam tinjauan yang diperbarui pada Juni 2026, gejala awal kekurangan tiamin cenderung tidak spesifik. Selain mudah lelah dan gampang marah, seseorang dapat mengalami gangguan tidur, penurunan nafsu makan, nyeri dada, hingga rasa tidak nyaman di perut. Karena keluhannya menyerupai gangguan kesehatan sehari-hari, kondisi ini bisa luput dikenali.

Jika tidak ditangani, defisiensi tiamin dapat berkembang menjadi beri-beri, yaitu kondisi yang memengaruhi sistem saraf maupun jantung. Berdasarkan ulasan dalam Journal of Education, Health and Sport, beri-beri terbagi menjadi dua bentuk, yakni beri-beri basah dan beri-beri kering.

Beri-beri basah berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, sedangkan beri-beri kering lebih banyak memengaruhi sistem saraf. Gejalanya dapat berupa kesemutan, mati rasa pada tangan dan kaki, nyeri, kelemahan otot, hingga kesulitan berjalan. Laporan kasus dalam American Journal of Case Reports juga menjelaskan bahwa tingkat keparahan neuropati dapat berkaitan dengan derajat dan lamanya kekurangan tiamin.

Pada kondisi yang lebih berat, defisiensi tiamin dapat menyebabkan ensefalopati Wernicke, gangguan otak yang membutuhkan penanganan segera. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat berlanjut menjadi sindrom Korsakoff, yang ditandai dengan gangguan ingatan. Risiko ini tidak terbatas pada orang yang mengonsumsi alkohol secara kronis.

Pola makan yang kurang beragam juga dapat berkontribusi terhadap kekurangan tiamin. Laporan kasus dalam Journal of the American Board of Family Medicine, misalnya, mengaitkan dugaan defisiensi pada seorang pasien dengan pola makan yang didominasi nasi giling. Diet ketat, gangguan makan, dan penyakit radang usus juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kekurangan nutrisi ini.

Kebutuhan tiamin dapat meningkat pada kondisi tertentu, termasuk kehamilan dan menyusui. Demam berkepanjangan serta keadaan yang meningkatkan kebutuhan metabolisme tubuh juga dapat berkontribusi terhadap risiko defisiensi jika asupannya tidak mencukupi. Pada bayi yang mendapat ASI dari ibu dengan kekurangan tiamin, gejala dapat muncul pada usia dua hingga empat bulan.

Menurut MSD Manual, diagnosis kekurangan tiamin dapat dipertimbangkan berdasarkan gejala, faktor risiko, dan respons pasien terhadap pemberian tiamin. Pemeriksaan kadar tiamin dalam darah atau urin juga dapat membantu penilaian, meskipun hasilnya perlu diinterpretasikan sesuai kondisi klinis pasien.

Penanganan sejak dini penting untuk mengurangi risiko komplikasi. Pemberian glukosa pada orang dengan defisiensi tiamin berat dapat memicu atau memperburuk gejala neurologis, sehingga tenaga medis perlu mempertimbangkan kemungkinan kekurangan tiamin ketika menangani pasien berisiko. Kerusakan saraf yang sudah terjadi juga tidak selalu pulih sepenuhnya.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan tiamin, konsumsi makanan bergizi seimbang dengan sumber vitamin B1 perlu diperhatikan. Sumbernya antara lain biji-bijian utuh, kacang-kacangan, daging, dan sejumlah produk pangan yang diperkaya tiamin.

Jika mengalami kesemutan yang semakin parah, kelemahan otot, kesulitan berjalan, atau kebingungan, segera cari pertolongan medis. Gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, sehingga pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.