Bedah Robotik Satu Akses Pertama di Asia Tenggara Hadir di Primaya Hospital

Navaswara.com — Primaya Hospital Group mencatat langkah baru dalam pengembangan layanan bedah minimal invasif dengan memasang SHURUI Robotic Single-Port Surgical System di Primaya Hospital Kelapa Gading, Jakarta. Teknologi besutan Beijing Surgerii Robotics Company Limited ini menjadi instalasi pertama di Asia Tenggara.

Pemasangan tersebut merupakan hasil kerja sama Primaya Hospital, Lynas Medikal, dan Surgerii Robotics yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Inisiatif ini memperkuat upaya pengembangan layanan bedah berbasis teknologi di Indonesia.

Langkah tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan berteknologi maju. Data olahan Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI tahun 2025 mencatat sekitar satu juta WNI berobat ke luar negeri setiap tahun.

Sebanyak 60 persen di antaranya berdomisili di Jakarta. Tindakan bedah menempati urutan kedua layanan yang paling banyak diminati, dengan proporsi 19,2 persen, setelah pemeriksaan kesehatan (medical check-up).

CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali, CFA, FRM, mengatakan, pengembangan teknologi bedah robotik merupakan langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan medis berteknologi maju. Menurutnya, pengembangan tersebut turut mempertimbangkan aksesibilitas, pelatihan dokter, dan potensi penyediaan layanan yang kompetitif.

“Bagi Primaya Hospital Group, menghadirkan SHURUI Robotic Single-Port Surgical System merupakan langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan bedah minimal invasif berteknologi maju,” ujar Leona.

Mengenal Teknologi Bedah Robotik SHURUI

SHURUI Robotic Single-Port Surgical System dirancang untuk membantu dokter melakukan prosedur bedah tertentu melalui satu akses bedah (single-port). Sistem ini menggunakan instrumen fleksibel menyerupai ular (snake-like instruments) yang dilengkapi visualisasi endoskopi tiga dimensi (3D).

Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi jumlah sayatan dan menghasilkan bekas luka yang lebih kecil, bergantung pada jenis tindakan serta kondisi klinis pasien. Teknologi ini dirancang untuk mendukung prosedur di sejumlah bidang, meliputi urologi, obstetri dan ginekologi, bedah umum, serta bedah toraks, sesuai indikasi dan persetujuan penggunaannya.

SHURUI telah memperoleh persetujuan regulasi di China dan sertifikasi CE di Uni Eropa. Meski demikian, pemanfaatan teknologi bedah robotik tetap memerlukan pertimbangan klinis, kompetensi dokter, dan penerapan standar keselamatan pasien.

Fifi Zhang, Overseas Operational Manager Surgerii Robotics, menyambut kolaborasi dengan Primaya Hospital sebagai langkah untuk memperluas pengembangan teknologi bedah minimal invasif di kawasan Asia Tenggara.

“Kami bangga dapat berkolaborasi dengan Primaya Hospital dalam menginstalasi SHURUI Robotic Single-Port Surgical System pertama di Asia Tenggara. Kami berharap kemitraan ini dapat menjadi langkah awal untuk memperluas pengembangan teknologi bedah minimal invasif di kawasan, didukung pelatihan tenaga medis dan kolaborasi klinis yang berkelanjutan,” kata Fifi.

Pelatihan Dokter Menjadi Bagian Persiapan

Penguatan teknologi juga disertai persiapan sumber daya manusia. Pada September 2026, Primaya Hospital Group mengirimkan tujuh dokter spesialis dan subspesialis ke Shanghai, China, untuk mengikuti pelatihan penggunaan sistem bedah robotik tersebut.

Para dokter berasal dari bidang bedah digestif, obstetri dan ginekologi, urologi, bedah anak, serta bedah onkologi. Pelatihan ini ditujukan untuk mempersiapkan tenaga medis memahami penggunaan teknologi sesuai kompetensi, indikasi klinis, dan standar keselamatan pasien.

Leona menegaskan bahwa pengembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi tenaga medis dan kualitas pelayanan. Menurutnya, inovasi harus memiliki tujuan klinis yang jelas serta menjawab kebutuhan pasien.

“Kami ingin memastikan setiap inovasi yang dikembangkan memiliki tujuan yang jelas, yaitu mendukung layanan yang berkualitas, mengutamakan keselamatan pasien, dan menjawab kebutuhan masyarakat,” tutup Leona.

Pengembangan layanan bedah robotik ini diharapkan dapat memperluas pilihan perawatan bagi masyarakat Indonesia. Penguatan kompetensi dokter, penerapan standar keselamatan, dan kualitas layanan akan menjadi bagian penting dalam pemanfaatan teknologi tersebut di lingkungan klinis.