Navaswara.com – Bagi Ivan Gunawan, kemampuan seseorang tidak semestinya dinilai dari usia atau kondisi fisiknya. Prinsip itu ia terapkan ketika memilih karyawan untuk butik miliknya di Jakarta Selatan. Di tempat usahanya, ada pekerja berusia lebih dari 60 tahun. Ia juga memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.
Desainer sekaligus selebritas itu mengungkapkan, pengalaman dan kemampuan menjadi pertimbangan utama dalam merekrut karyawan. Selama seseorang mampu menjalankan pekerjaan sesuai kebutuhan, usia maupun kondisi fisik bukan alasan untuk menutup kesempatan.
“Saya mau kasih tahu, bahwa di butik itu saya mempekerjakan orang yang usianya di atas 60 tahun,” kata Ivan Gunawan dalam suatu kesempatan.
Keputusan itu, menurut Ivan, didasarkan pada kemampuan para pekerjanya. Usia yang tak lagi muda bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk tetap produktif.
“Saya punya pekerja yang di atas 60 tahun karena apa? Karena dia bisa bekerja, punya pengalaman gitu,” ujarnya.
Prinsip serupa ia terapkan kepada penyandang disabilitas. Ivan mengatakan tidak menjadikan penampilan atau kondisi fisik sebagai tolok ukur utama ketika mencari karyawan. Ia lebih memperhatikan kecocokan kemampuan calon pekerja dengan kebutuhan tim.
“Banyak anak dan orang disabilitas yang aku pekerjakan juga. Jadi, aku kalau mencari pegawai tidak melihat bentuk, tidak melihat fisik,” kata Ivan.
Meski begitu, ia tetap mempertimbangkan kemampuan setiap individu untuk menjalankan pekerjaan yang tersedia.
“Tapi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan orang tersebut untuk bisa masuk ke tim aku. Kalau memang dia oke dan punya kemampuan dalam kebutuhan aku ya kenapa nggak,” tuturnya.
Pandangan tentang kesempatan itu memperoleh konteks lain ketika Ivan mendapat kepercayaan untuk merancang seragam Kontingen Indonesia dalam defile upacara pembukaan Asian Para Games 2026 di Jepang. Kali ini, keterlibatannya bukan sebagai pengusaha yang memilih pekerja, melainkan sebagai desainer yang menyiapkan busana bagi para atlet penyandang disabilitas yang akan membawa nama Indonesia di panggung olahraga Asia.
Kesempatan tersebut, kata Ivan, menjadi pengalaman baru. Ia mengaku belum pernah merancang busana untuk atlet dalam ajang olahraga profesional. Karena itu, tugas tersebut menghadirkan tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri.
“Saya bersyukur banget. Di antara nama-nama desainer besar, lalu keluar dua nama dan pada akhirnya desain saya yang terpilih,” kata Ivan.
Sekar Jagad Vijaya dan Harapan Kemenangan
Seragam yang dirancang Ivan mengusung nama Sekar Jagad Vijaya. Rancangan itu mengangkat motif batik Sekar Jagad dari Madura, yang belakangan tengah ia upayakan untuk kembali populer melalui jenamanya.
Nama Vijaya dipilih dengan makna kemenangan. Bagi Ivan, nama dan motif tersebut diharapkan menjadi doa bagi para atlet Indonesia yang akan bertanding di Jepang.
“Tahun ini bersama brand Ivan Gunawan, saya sedang mempopulerkan kembali batik sekar jagad dari Madura. Jadi dari motif Sekar Jagad ini, dengan saya kasih tambahan Vijaya, saya melihat motif ini relate banget untuk teman-teman yang nantinya akan berlomba di Jepang,” ujarnya.
Ia berharap seragam tersebut bukan hanya menjadi pakaian untuk upacara pembukaan, tetapi juga sesuatu yang membuat para atlet merasa bangga saat mengenakannya.
“Vijaya itu sendiri memiliki arti dan melambangkan sebuah kemenangan. Insya Allah, dari nama baik, judul baik dan tema baik ini prestasi Indonesia bisa lebih membanggakan, meraih lebih banyak medali emas di Jepang nanti,” kata Ivan.
Penunjukan Ivan sebagai desainer dilakukan melalui proses seleksi yang digagas Reda Manthovani, selaku Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia. Ketua Umum National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia), Senny Marbun, mengatakan rancangan seragam untuk defile memang perlu dipersiapkan secara serius.
“Ini merupakan gagasan dari Bapak Reda, bahwa membuat seragam itu tidak bisa sembarangan. Mudah-mudahan Ivan Gunawan bisa menghadirkan desain yang sesuai keinginan kita bersama,” kata Senny, beberapa waktu lalu.
Proses pengerjaan seragam telah dimulai. Ivan bersama timnya datang langsung ke Solo untuk bertemu dengan para atlet dan ofisial, sekaligus melakukan pengukuran badan.
Pertemuan itu menjadi kesempatan bagi Ivan untuk mengenal lebih dekat orang-orang yang akan mengenakan rancangannya. Ia sengaja datang agar dapat berkomunikasi langsung dengan para atlet, bukan hanya mengandalkan proses pengerjaan busana dari jauh.
Dari pertemuan tersebut, Ivan mengaku semakin mengagumi perjuangan para atlet, termasuk Kholidin dan rekan-rekannya, yang mampu meraih prestasi di tingkat dunia.
“Ini momen pertama saya mendesain untuk atlet dan ini bukan sembarang atlet. Buat saya, mereka dikasih dan dititipin oleh Tuhan kemampuan ekstra melebihi manusia pada umumnya. Jadi saya juga tertantang membuat busana untuk defile,” ujarnya.
Ivan mengatakan dukungan yang dapat ia berikan melalui pekerjaannya adalah menyemangati para atlet dan menyiapkan busana yang membuat mereka merasa percaya diri.
“Saya hanya bisa memberikan semangat, memberikan dukungan karena buat saya mereka yang sudah menjadi atlet dengan kondisi yang mereka alami saja, buat aku sudah hebat banget,” ujarnya.
Asian Para Games 2026 dijadwalkan berlangsung pada 18–24 Oktober 2026 di wilayah Aichi dan Nagoya, Jepang. Sebanyak 45 kontingen direncanakan bersaing dalam 18 cabang olahraga.
Keterlibatan Ivan dalam ajang ini menjadi kesempatan untuk menggunakan keahliannya di luar dunia mode. Ia membawa batik Madura ke dalam rancangan seragam kontingen, sembari berharap para atlet Indonesia dapat tampil dengan kebanggaan dan membawa pulang prestasi.
Di butik, ia mengatakan memberi kesempatan kepada orang-orang yang dinilainya mampu bekerja, tanpa menjadikan usia dan kondisi fisik sebagai ukuran utama. Di Asian Para Games, ia menyiapkan busana bagi atlet yang akan menunjukkan kemampuan mereka di arena pertandingan.
Keduanya merupakan peran yang berbeda. Namun, ada satu gagasan yang mempertemukannya, yakni kesempatan untuk menunjukkan kemampuan seharusnya tidak berhenti pada penilaian terhadap fisik seseorang.

