Menilik Seni Patung Indonesia dari Masa ke Masa Lewat Pameran “Figur”

Navaswara.com — Komunitas Salihara kembali menghadirkan jejeran karya seni menarik dalam pameran bertajuk “Figur”. Resmi dibuka di Galeri Salihara, Jakarta, Kamis (1/10), acara ini menghadirkan karya dari 12 pematung lintas generasi.

Dikuratori oleh Asikin Hasan, pameran “Figur” mempertemukan G. Sidharta Soegijo, Nyoman Nuarta, Dolorosa Sinaga, Yani Mariani, Koko Sondaka, Bambang Winaryo, Dunadi, Purjito, Abdi Setiawan, Adi Gunawan, Alfiah Rahdini, dan Dzikra Afifah.

Pameran ini menjadikan figur sebagai titik temu sekaligus ruang eksplorasi bagi para seniman. Menurut sang kurator, pertemuan antara 12 pematung tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan seni patung Indonesia, baik dari penggunaan medium dan teknik maupun cara baru dalam menafsirkan figur itu sendiri.

Dalam pameran ini, figur tidak selalu tampil sebagai representasi tubuh manusia yang utuh dan realistis. Bentuknya dapat menggelembung, terpotong, lentur, bahkan berkembang menjadi sebuah instalasi yang sangat unik.

Eksplorasi tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang seni patung Indonesia yang berkembang sekitar tujuh dekade terakhir. Pada era 1950-an, salah satu jejaknya terlihat melalui pameran patung di halaman depan kantor DPRD Yogyakarta yang menampilkan karya anggota Sanggar Pelukis Rakyat, seperti Hendra Gunawan, Edhi Sunarso, dan Trubus Soedarsono.

Seiring waktu, medium seni patung juga kian beragam, mulai dari kayu dan batu hingga serat gelas, logam, serta teknologi cetak digital trimatra. Perubahan tersebu turut membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam mengolah figur.

Di ruang pameran, tubuh manusia tidak lagi sekadar ditiru, tapi juga dapat diperbesar, dipotong, atau diubah sesuai gagasan artistik masing-masing pematung. Keragaman pendekatan ini terlihat dalam karya para seniman yang hadir di pameran “Figur” ini.

Salah satunya adalah G. Sidharta Soegijo yang dikenal melalui perjalanan panjangnya dalam mengembangkan patung figur, abstrak, dan eksperimental. Ada pula Nyoman Nuarta yang konsisten mengembangkan seni patung figur.

Sementara Dolorosa Sinaga menghadirkan tubuh ringkih dan sosok perempuan yang berkaitan dengan isu ketidakadilan serta persoalan sosial. Di sisi lain, Yani Mariani hadir dengan mengeksplorasi gerak tubuh melalui material serat dan logam sehingga figur tampak memutar, melayang, hingga hendak terbang.