2 Pelajar Bawa Budaya Kalimantan ke Indonesia International Culture Festival 2026

Navaswara.com – Pakaian adat Kalimantan menjadi pilihan Nindy Pricillia Wardaya saat tampil dalam Indonesia International Culture Festival (IICF) 2026. Bagi siswi SMA Adi Luhur Jakarta Timur itu, mengenakan busana adat bukan sebatas soal penampilan.

“Saya memilih menggunakan baju adat Kalimantan karena Kalimantan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang sangat beragam,” kata Nindy.

Nindy menjadi salah satu peserta yang ikut memeriahkan IICF 2026 bersama Queen Alz Entertainment. Festival tersebut digelar di kawasan Symphony of the Sea, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada 12–13 September 2026.

Bagi Nindy, pakaian adat yang dikenakannya menjadi cara sederhana untuk menunjukkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia.

“Saya juga ingin memperkenalkan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak budaya yang indah dan unik. Melalui acara ini, saya berharap budaya Kalimantan semakin dikenal oleh masyarakat luas, termasuk oleh masyarakat internasional,” ujarnya.

Bertemu Peserta dari Berbagai Negara

IICF 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kelima yang diinisiasi Yayasan Warna Budaya Indonesia (Color of Indonesia). Festival ini mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Djarum Foundation, serta pihak Ancol.

Ribuan peserta dari 12 negara ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka datang dari Amerika Serikat, Rusia, Polandia, Mongolia, Korea Selatan, India, Filipina, Sri Lanka, Malaysia, Thailand, Turki, dan Indonesia.

Salah satu agenda utama IICF 2026 adalah pemecahan rekor MURI melalui Tari Semarak Jali-Jali Betawi. Sebanyak 2.713 penari dari 12 negara tampil secara kolosal pada 12 September 2026 di area Symphony of the Sea.

“Pemecahan rekor ini menjadi bukti bahwa budaya Betawi mampu menjadi perekat persaudaraan antarbangsa. Kami bangga dapat mempersembahkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia,” ujar perwakilan panitia IICF 2026.

Selain pertunjukan tari, rangkaian acara IICF 2026 mencakup International Dance Competition, Drawing Coloring Competition, Face Painting, International Beach Parade Competition, dan Solo Dance Competition. Festival ini juga menghadirkan bazaar produk UMKM.

Juri internasional dari International of Folklore Festivals Organization (IOFF) turut dilibatkan dalam kompetisi.

Bagi peserta seperti Nindy, salah satu pengalaman menarik justru datang dari pertemuan dengan peserta dari negara lain.

“Bisa bertemu hal yang baru, kenalan dan berfoto dengan kontestan negara-negara yang ikut serta, bisa kenal dan tahu banyak tentang budaya dunia secara langsung,” katanya.

Sudah Tiga Kali Ikut IICF

Nindy bukan satu-satunya anggota Queen Alz Entertainment yang mengikuti festival tersebut. Ada pula Alzhea Putri Afrianda, siswi SDN Kalisari 05 Jakarta Timur yang masih duduk di kelas 4.

Bagi Alzhea, IICF menjadi kesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia sekaligus mengenal kebudayaan negara lain.

Ia mengaku memiliki alasan personal ketika memilih budaya Kalimantan untuk diperkenalkan.

“Nenek kakek saya orang Kalimantan dan saya ingin membanggakan mereka. Walaupun saya lahir dan besar di ibu kota, rasa cinta akan budaya kelahiran orang tua saya tetap ada,” ujar Alzhea.

Ia berharap keterlibatannya dalam festival tersebut dapat membantu memperkenalkan budaya Kalimantan kepada lebih banyak orang.

Nindy dan Alzhea bergabung dengan Queen Alz Entertainment, sanggar yang membuat kelas dan grup dance bagi anak-anak dan anak muda. Salah satu tujuan komunitas tersebut adalah mendorong anggotanya berkarya dan berprestasi melalui kegiatan seni dan budaya.

Queen Alz Entertainment juga melihat kegiatan budaya sebagai ruang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia di kalangan generasi muda.

Keduanya telah mengikuti IICF sebanyak tiga kali, sejak 2024. Persiapan untuk penampilan tahun ini dilakukan sekitar satu bulan.

Bagi Nindy, pengalaman mengikuti festival tersebut membuatnya melihat keberagaman dengan cara yang berbeda.

“Keberagaman bukanlah sebuah perbedaan yang memisahkan, tetapi merupakan kekayaan yang dapat menyatukan,” katanya.

Ia juga merasa mendapat pengalaman berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya.

Membawa Budaya ke Generasi Muda

Di tengah rangkaian festival yang mempertemukan peserta dari berbagai negara, Nindy melihat ada satu hal yang tidak kalah penting: generasi muda perlu mengenal budaya mereka sendiri.

“Dari festival ini, saya semakin memahami bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi berikutnya dan kepada dunia,” ujarnya.

Pesan itu pula yang dibawa Queen Alz Entertainment melalui keterlibatan anak-anak dan remaja dalam berbagai kegiatan seni.

Sementara bagi Alzhea, kecintaan terhadap budaya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mengenakan pakaian adat, mempelajari tarian, dan memperkenalkan budaya daerah kepada orang lain menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan sejak usia dini.

Di IICF 2026, budaya Indonesia hadir berdampingan dengan budaya dari berbagai negara. Bagi dua pelajar tersebut, kesempatan itu bukan hanya tentang tampil di atas panggung.

Ada pakaian adat yang mereka kenakan, budaya Kalimantan yang ingin mereka ceritakan, dan pertemuan dengan peserta dari negara lain yang membuat mereka melihat keberagaman secara langsung.