Kuliner Nusantara Tersaji Lewat Perjalanan Baru Webseries Kuliner Indonesia Kaya

Navaswara.com – Rasa biasanya memang menjadi pintu pertama untuk mengenal sebuah daerah. Baik dari dapur rumahan hingga tradisi memasak turun-temurun, makanan menyimpan cerita panjang tentang sejarah, alam, dan kebiasaan masyarakat.

Gagasan itu kembali diangkat lewat Kuliner Indonesia Kaya yang merilis rangkaian episode terbaru pada tahun ini. Program yang digagas Indonesia Kaya ini mengajak penonton menelusuri kisah kuliner Nusantara melalui perjalanan ke berbagai daerah.

Sejak 2017, program yang digagas oleh Indonesia Kaya tersebut merekam berbagai tradisi memasak dari banyak daerah. Format audio visual dipilih agar publik dapat melihat langsung proses memasak sekaligus memahami kisah yang menyertai setiap hidangan.

Musim terbaru membawa penonton menjelajahi tiga kota yang memiliki jejak kuliner kuat yaitu Ternate, Palembang, dan Banten. Ketiga wilayah tersebut dikenal memiliki sejarah panjang yang turut membentuk cara masyarakat mengolah bahan makanan.

Program Director Renitasari Adrian mengatakan dokumentasi kuliner tidak hanya menampilkan hidangan. Ia menilai setiap makanan menyimpan pengetahuan memasak dan kebiasaan hidup masyarakat setempat. “Cerita kuliner selalu berkaitan dengan sejarah daerah serta cara masyarakat menjaga tradisi memasak yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.

Episode pertama yang tayang membawa penonton ke Ternate yang pernah menjadi bagian penting dari jalur perdagangan rempah. Salah satu tradisi yang diangkat ialah metode memasak Rimo-rimo yang memanfaatkan bambu sebagai wadah alami tanpa peralatan dapur modern.

Budayawan lokal Kris Syamsudin menjelaskan bahwa teknik tersebut lahir dari kebutuhan masyarakat ketika berada di hutan. “Rimo-rimo berkembang dari situasi survival. Bambu digunakan sebagai media memasak ketika masyarakat tidak membawa panci,” ujarnya.

Ternate juga memperkenalkan hidangan Gohu Ikan yang mengandalkan kesegaran laut. Potongan tuna atau cakalang disajikan mentah dengan garam, lemon cui, dan daun kemangi yang menghasilkan rasa segar khas Maluku Utara.

Perjalanan kuliner kemudian berlanjut ke Palembang pada episode yang tayang 5 Maret 2026. Kota yang berkembang di tepian Sungai Musi ini dikenal dengan hidangan Pindang Ikan yang memanfaatkan ikan sungai seperti patin, gabus, maupun baung.

Palembang juga memperlihatkan kekayaan kue tradisional. Kue Delapan Jam terkenal karena proses pemasakan panjang yang menghasilkan tekstur lembut. Sementara Kue Maksuba sering hadir dalam perayaan keluarga dan tradisi pernikahan.

Episode ketiga yang tayang 12 Maret 2026 beralih ke Banten yang memiliki warisan kuliner dari masa kesultanan. Hidangan Sate Bandeng dipercaya sebagai sajian istana yang dahulu digemari Maulana Hasanuddin.

Selain itu terdapat pula Rabeg, hidangan berbahan daging yang diyakini terinspirasi dari pengalaman sang sultan ketika singgah di kota Rabigh saat perjalanan haji.

Renitasari Adrian menilai dokumentasi kuliner memiliki peran penting untuk memperkenalkan warisan gastronomi kepada generasi muda. “Kami berharap tayangan ini membantu masyarakat mengenali kembali kekayaan rasa Indonesia serta memahami cerita budaya yang hidup di balik setiap hidangan,” katanya.