Penemuan Seni Lukis Batu 5000 Tahun di Sinai

Di tengah hamparan gurun yang tampak sunyi, Mesir ternyata masih menyimpan kisah yang jauh lebih banyak dari yang kita bayangkan. Sebuah survei seni cadas di Wadi Khamila yang dilakukan oleh Mustafa Nour El-Din dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir bersama Ludwig Morenz dari Universitas Bonn mengungkapkan penemuan terbaru. Menurut laporan ZME Science, ditemukan sebuah prasasti berusia 5.000 tahun yang menggambarkan penaklukan Sinai selatan oleh firaun pada zaman Mesir kuno.

Penemuan di kawasan Semenanjung Sinai ini membuka kembali kisah perjalanan panjang antara manusia masa kini dan para leluhur yang pernah menjejakkan kaki di wilayah tersebut ribuan tahun silam. Lukisan-lukisan sederhana yang tergores di permukaan batu itu bukan sekadar artefak arkeologis, tapi juga pesan emosional yang mampu menyeberangi zaman.

Gambar-gambar yang ditemukan memperlihatkan siluet manusia, hewan, dan simbol-simbol geometris yang memiliki banyak tafsir. Dalam goresannya yang tampak kasar, tergambar kehidupan masyarakat prasejarah yang bergantung pada alam, tinggal berpindah-pindah mengikuti sumber air, dan menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Setiap goresan menjadi catatan dari masyarakat kala itu untuk meninggalkan jejak peradaban dan berekspresi. Potret yang ditemukan juga menyerupai penggambaran kekuasaan firaun Dinasti ke-1 atas Nubia di selatan di situs Gebel Sheikh Suleiman.

Para peneliti meyakini lukisan ini dibuat menggunakan pigmen alami dari batuan mineral dan tanah berwarna, dicampur dengan cairan organik sederhana. Sinai sendiri sejak lama dikenal sebagai wilayah perlintasan penting antara daratan Afrika dan Asia. Penemuan lukisan batu ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut telah menjadi ruang yang aktif sejak ribuan tahun lalu. Bukan hanya jalur yang lewati, tetapi juga rumah tinggal sementara bagi komunitas masyarakat masa silam yang tinggal nomaden. Lukisan berusia ribuan tahun ini mengingatkan kita bahwa sebelum peradaban modern, sebelum tulisan dan teknologi berkembang, manusia sudah memiliki kepekaan artistik dan kebutuhan untuk berbagi cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *