Pagi hari Anda belum lengkap tanpa segelas kopi hitam atau seduhan teh hangat? Kabar baik, kebiasaan ini ternyata bukan cuma soal penahan kantuk atau teman sarapan. Studi terbaru menyebutkan bahwa rutin menyesap kopi atau teh bisa jadi ‘senjata’ rahasia untuk menangkal pikun alias demensia di masa tua.
Namun, mana yang lebih unggul sebagai pelindung otak?
Tak main-main, riset yang dipublikasikan di jurnal medis JAMA ini digarap oleh para peneliti dari Universitas Harvard. Mereka memantau sekitar 131.821 partisipan dengan durasi yang sangat panjang, yakni hingga 43 tahun!
Hasilnya cukup mencengangkan. Melansir EatingWell, Senin (16/2), mereka yang rutin minum kopi berkafein punya risiko demensia 18 persen lebih rendah. Sementara para pencinta teh juga tak kalah, dengan penurunan risiko sebesar 14 persen dibandingkan mereka yang jarang menyentuhnya.
Kenapa kopi dan teh bisa sebegitu saktinya? Peneliti menemukan bahwa kafein adalah kunci utamanya.
Menariknya, manfaat ini tidak ditemukan pada kopi decaf (tanpa kafein). Hal ini menguatkan dugaan bahwa senyawa kafeinlah yang bekerja memberikan efek protektif pada sel-sel otak kita. Selain risiko demensia yang turun, para peminum kafein juga dilaporkan lebih jarang mengeluh soal penurunan daya ingat.
Berapa Gelas Sehari Agar Maksimal?
Meski bermanfaat, bukan berarti Anda bisa minum berliter-liter. Peneliti menegaskan, pada konsumsi yang moderat dan konsisten.
Berikut takaran “ajaib” yang disarankan, kopi sekitar 2 hingga 3 cangkir per hari. Sementara, teh sekitar 1 hingga 2 cangkir per hari. (Catatan, ukuran satu cangkir standar adalah 240 ml).
Jika Anda minum lebih dari jumlah tersebut, studi menunjukkan tidak ada perlindungan tambahan yang signifikan. Jadi, kuncinya adalah secukupnya.
Walaupun kopi dan teh terlihat sangat menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa ini bukan solusi tunggal. Studi ini bersifat observasional, artinya kebiasaan minum kopi adalah bagian dari gaya hidup, bukan satu-satunya faktor penyebab.
“Kopi dan teh bukan solusi tunggal untuk mencegah demensia, tetapi dapat menjadi bagian dari pendekatan gaya hidup sehat secara keseluruhan,” tulis tim peneliti.
Jadi, selain rutin ngopi atau ngeteh, jangan lupa tetap menjaga pola makan seimbang, rajin olahraga, tidur yang cukup, dan tetap aktif bersosialisasi agar otak tetap tajam sampai tua.

