Navaswara.com – Olafur Eliasson, seniman Islandia-Denmark, menghadirkan pameran bertajuk “Your Curious Journey”. Berlangsung di Museum MACAN, gelaran ini menghadirkan pengalaman artistik yang mengajak kita untuk berjalan pelan, menajamkan rasa ingin tahu, dan membuka kembali hubungan manusia dengan alam, cahaya, serta ruang.
Melalui karya-karya instalatif yang imersif, ia tidak sekadar memamerkan objek seni, melainkan merancang situasi yang mengundang tubuh dan panca indera untuk ikut berpikir. Setiap langkah di dalam pameran ini terasa seperti dialog personal antara kita dan karya-karyanya, seolah seni tidak lagi berdiri di hadapan kita, tetapi mengelilingi, menyentuh, dan bahkan mengubah cara kita memandang diri sendiri.
Sebagai seniman yang dikenal luas lewat eksplorasi cahaya, air, refleksi, suhu, dan fenomena alam, Eliasson menempatkan manusia sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Dalam Your Curious Journey, pengalaman visual berpadu dengan sensasi fisik seperti pantulan cahaya yang berubah seiring gerak tubuh, ruang yang tampak sederhana, hingga permainan bayangan yang membuat pengunjung menyadari keberadaan dirinya sendiri di dalam ruang tersebut.
Bahasa visual yang digunakan sang seniman terasa jujur dan bersahaja, namun sarat makna. Karya-karya yang dipamerkan tidak menuntut pengetahuan seni yang rumit untuk dinikmati. Justru sebaliknya, pameran ini membuka pintu bagi siapa pun, baik penikmat seni berpengalaman maupun pengunjung awam untuk mengalami seni melalui rasa, bukan sekadar nalar. Ada momen ketika pengunjung berhenti, terdiam, lalu tersenyum kecil karena menyadari sesuatu yang sederhana.
Salah satu karya yang akan menyambut kita adalah Ventilator (1997), karya berupa kepala kipas angin yang menggantung di langit-langit, bergerak bebas mengikuti arus udara. Tampak sederhana, namun justru kita diajak menyadari keberadaan ruang antara ritme, jarak, dan gerakan yang tak pernah sama. Kipas itu seperti mengatur tempo napas ruangan. Perlahan-lahan tubuh kita selaras, menemukan ketenangan melalui sesuatu yang begitu sehari-hari, namun jarang kita sadari.
Pendekatan humanis terasa kuat karena Eliasson tidak memosisikan manusia sebagai penonton pasif. Tubuh, gerak, dan persepsi setiap individu menjadi bagian dari karya itu sendiri. Pengalaman setiap orang pun berbeda, tergantung sudut pandang, kecepatan langkah, dan kepekaan indera masing-masing.

