Navaswara.com – Jakarta Running Festival (JRF) 2026 akan diikuti lebih dari 37 ribu pelari dari 48 negara. Namun, pelaksanaan ajang lari tersebut berlangsung di tengah kondisi cuaca Jakarta yang terik dan kualitas udara yang memburuk.
Untuk mengantisipasi risiko akibat cuaca ekstrem, panitia JRF 2026 menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keselamatan pelari. Salah satunya dengan membatasi hingga menghentikan perlombaan jika kondisi dinilai membahayakan.
Race Director JRF 2026 Donny Tjahyandikarta mengatakan, panitia menggunakan sistem pemantauan cuaca berbasis indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) di sepanjang rute perlombaan.
Sistem tersebut digunakan untuk memantau kondisi lingkungan secara real-time, termasuk suhu dan kelembapan. Data itu menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat risiko yang dihadapi pelari.
Bendera Hitam Jadi Tanda Race Dihentikan
Donny menjelaskan, indikator WBGT akan ditampilkan melalui bendera yang dipasang di sejumlah titik lintasan dan tenda medis. Dengan begitu, pelari dapat mengetahui kondisi cuaca selama perlombaan berlangsung.
Warna bendera akan menunjukkan tingkat risiko. Jika kondisi sudah masuk level berbahaya dan ditandai dengan bendera hitam, perlombaan akan dihentikan.
“Jadi, kita akan pantau terus dan kita akan ada taruh bendera di race, di beberapa tenda medik. Pelari bisa melihat ketika warnanya itu artinya hati-hati. Dan kalau sampai bendera hitam naik, maka kita akan menghentikan race,” ungkap Donny di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (22/10).
Donny juga mengimbau peserta tidak memaksakan diri saat mengikuti perlombaan. Para pelari diminta mendengarkan kondisi tubuh dan mengutamakan keselamatan dibanding mengejar target waktu.
“Dengarkan tubuh kalian. Jangan kejar waktu. Cuaca kan lagi kurang baik, jadi jangan terlalu dipaksa,” ujarnya.
Jumlah peserta JRF 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini, lebih dari 37 ribu pelari ambil bagian, termasuk sekitar 1.200 pelari dari mancanegara.
Jumlah tersebut naik dari penyelenggaraan tahun lalu yang diikuti sekitar 27 ribu peserta.
Untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem, panitia juga memperkuat kesiapan medis di sepanjang rute perlombaan.
Perwakilan Tim Medis JRF 2026, dr. Wahyuni Dian Purwati, SpEM, mengatakan tim medis disiapkan mulai dari area tepi lintasan hingga sejumlah titik di sepanjang rute.
“Kami sudah menyiapkan cukup banyak tim, mengingat cuaca Jakarta agak menakutkan, agak cepat panas dan terang. Saat ini, kami ada lebih dari 10 dokter dan perawat, kami sediakan 11 ambulans. Kami akan ready mulai dari tenda medis utama sampai dengan di area lain, misalnya ada di medical post di sepanjang rute,” ungkap Wahyuni.
Tim medis juga akan bersiaga secara mobile di sekitar kawasan Istora Senayan dan sepanjang rute lari. Langkah tersebut dilakukan agar peserta yang membutuhkan pertolongan dapat segera ditangani.
Panitia Siapkan 12 Unit ICU
Wahyuni mengatakan, penanganan medis tidak hanya dipusatkan di tenda utama. Tim akan disebar di sejumlah titik untuk mengantisipasi kondisi darurat yang dialami pelari.
Panitia menyiapkan 12 unit Intensive Care Unit (ICU) yang dilengkapi berbagai peralatan medis, seperti elektrokardiogram (ECG), Automated External Defibrillator (AED) portabel, hingga ventilator.
“Kami juga akan sediakan 12 ICU, jadi kalau 12 ICU itu bukan cuman bed-nya aja tuh, jadi kami juga ready untuk peralatan. Kita punya ECG, kita punya AED kita bawa lari non-stop yang canggih gitu ya, ventilator in case, kalau amit-amit gitu ya, runner sampai ada apa-apa,” pungkasnya.

