Bukan Cuma Cari Nafkah, Ini Alasan Ayah Perlu Ikut Mengasuh Anak

Navaswara.com — Dalam keseharian keluarga, ibu kerap menjadi orang pertama yang ditanya soal kebutuhan anak, mulai dari urusan makan hingga urusan pengasuhan lainnya.

Begitu pula urusan menemani belajar, menyiapkan kebutuhan sekolah, hingga menenangkan anak saat rewel. Sementara itu, ayah kerap dianggap telah menjalankan tanggung jawabnya ketika kebutuhan finansial keluarga terpenuhi. Kebiasaan yang terdengar sepele ini menyimpan persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana peran pengasuhan masih sering dibebankan kepada satu pihak.

Data Pendataan Keluarga 2025 (PK-25) dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menunjukkan sekitar 25,8 persen keluarga dengan anak mengalami kondisi fatherless, atau sekitar satu dari empat keluarga. Istilah ini tidak selalu merujuk pada ayah yang tidak tinggal serumah. Ketidakhadiran emosional dan minimnya keterlibatan dalam kehidupan anak juga menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Data BPS pada 2021 turut mencatat bahwa hanya 37,17 persen anak berusia 0 hingga 5 tahun diasuh bersama oleh kedua orang tua kandungnya. Angka-angka ini memang tidak menjelaskan seluruh dinamika keluarga Indonesia, tetapi cukup menjadi bahan refleksi tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Ketika Mengasuh Dianggap Tanggung Jawab Ibu

Selama bertahun-tahun, pembagian peran dalam keluarga kerap mengikuti pola yang diwariskan antargenerasi. Ayah bekerja mencari nafkah, sedangkan ibu mengurus rumah dan anak. Pola tersebut mungkin terasa wajar bagi sebagian keluarga, tetapi persoalan muncul ketika pembagian itu dianggap sebagai satu-satunya cara menjalani kehidupan rumah tangga.

Beban pengasuhan pun tidak berhenti pada pekerjaan yang terlihat. Ibu sering kali menjadi pihak yang mengingat jadwal imunisasi, mengetahui kebutuhan emosional anak, menyiapkan perlengkapan sekolah, hingga memastikan urusan rumah berjalan lancar. Pekerjaan mental semacam ini menyita energi, meski tidak selalu dianggap sebagai pekerjaan.

Ketika seluruh tanggung jawab tersebut bertumpu pada ibu, ayah pun kehilangan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak melalui rutinitas sehari-hari. Karena itu, keterlibatan ayah tidak semestinya dipandang sebagai bantuan kepada pasangan, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.

Kehadiran Ayah Terlihat dari Hal-Hal Kecil

Menjadi ayah yang terlibat tidak selalu membutuhkan waktu khusus atau kegiatan besar. Membacakan buku sebelum tidur, mengantar anak ke sekolah, menyiapkan sarapan, atau mendengarkan cerita tentang kejadian di kelas bisa menjadi bagian penting dari keseharian anak.

Kehadiran semacam ini memberi ruang bagi anak untuk mengenal ayah sebagai sosok yang dapat diajak berbicara, berbagi perasaan, dan mencari dukungan. Sejumlah kajian mengaitkan keterlibatan ayah dengan aspek perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak. Meski demikian, hubungan tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena tumbuh kembang anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk kualitas pengasuhan secara keseluruhan.

Pada Juli 2026, pemerintah meluncurkan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) untuk mendorong keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Inisiatif ini menjadi salah satu pengingat bahwa kehadiran ayah dapat dimulai melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Berbagi Peran, Bertumbuh Bersama

Membangun pengasuhan yang setara membutuhkan kesediaan kedua orang tua untuk berbicara tentang pembagian tanggung jawab. Ibu perlu memiliki ruang untuk beristirahat dan mengembangkan dirinya, sementara ayah perlu terlibat secara aktif, termasuk dalam urusan yang selama ini mungkin terasa asing.

Dukungan lingkungan juga berperan penting. Tempat kerja yang memberi fleksibilitas kepada ayah untuk menghadiri pertemuan sekolah atau menemani anak ketika sakit dapat membantu keluarga membangun pola pengasuhan yang lebih seimbang.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu tahu jawaban atas setiap persoalan. Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mendengarkan, dan hadir saat dibutuhkan. Sebab, kenangan tentang masa kecil tidak hanya terbentuk dari apa yang disediakan orang tua, tetapi juga dari waktu yang mereka luangkan bersama.

Pengasuhan yang sehat bukan tanggung jawab ibu yang sesekali dibantu ayah. Itu adalah perjalanan bersama, tempat keduanya memiliki ruang untuk mencintai, merawat, membuat kesalahan, dan bertumbuh bersama anak.