Punya Sejarah Panjang, Kenali Asal Usul 6 Bahan Pakaian

Navaswara.com — Katun, linen, sutra, hingga poliester yang akrab di lemari ternyata menyimpan sejarah panjang. Ada yang berawal dari peradaban kuno, ada pula yang lahir dari eksperimen laboratorium dan kebutuhan perang.

Coba periksa label pakaian yang sedang dikenakan. Katun, poliester, atau campuran keduanya mungkin menjadi keterangan yang paling sering ditemukan. Namun, di balik bahan yang terasa familier itu, tersimpan cerita tentang penemuan kuno, legenda kerajaan, hingga inovasi yang mengubah industri mode.

Menariknya, perjalanan setiap serat tidak selalu bermula dari kebutuhan membuat pakaian. Berikut asal usul enam bahan yang mungkin sudah lama menghuni lemari kita.

1. Linen, salah satu serat tertua dalam sejarah manusia

Jauh sebelum kemeja linen menjadi pilihan busana yang identik dengan gaya santai, manusia telah mengenal serat tanaman rami atau flax sejak zaman prasejarah.

Arkeolog menemukan serat rami berusia sekitar 30.000 tahun di sebuah gua di Georgia, kawasan Kaukasus. Serat tersebut telah dipintal dan diwarnai dalam berbagai warna, meski belum tentu digunakan untuk membuat pakaian tenun seperti yang dikenal sekarang.

Fungsinya diperkirakan mencakup pembuatan tali, keranjang, atau perlengkapan lainnya. Ribuan tahun kemudian, linen juga memiliki tempat penting dalam kebudayaan Mesir kuno. Bahan ini dikaitkan dengan kesucian dan digunakan oleh para pendeta dalam ritual keagamaan.

Kini, linen dikenal karena teksturnya yang khas, ringan, dan nyaman dikenakan dalam cuaca hangat.

2. Katun, warisan peradaban Lembah Indus

Katun yang banyak digunakan untuk kaus sehari-hari ternyata sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, dengan jejak sejarah yang mengarah ke peradaban kuno di anak benua India.

Salah satu bukti awal penggunaan katun ditemukan di Mehrgarh, wilayah yang kini menjadi bagian Pakistan. Serat katun digunakan untuk merangkai manik-manik tembaga sekitar 7.500–8.500 tahun lalu.

Sementara itu, sisa kain katun dari Mohenjo-daro, yang berusia sekitar 4.750–5.000 tahun, ditemukan menempel pada tutup sebuah vas perak.

Perdagangan turut membawa katun melintasi wilayah yang jauh dari tempat asalnya. Serat katun kuno yang ditemukan di Wilayah Levant Palestina misalnya, diduga berasal dari Lembah Indus.

Sejak peradaban kuno hingga masa industri pakaian modern, katun terus digunakan karena seratnya relatif lembut dan mampu menyerap kelembapan.

3. Sutra, dari legenda permaisuri hingga simbol kemewahan

Sutra memiliki salah satu kisah asal usul paling terkenal dalam sejarah tekstil. Menurut legenda Tiongkok, sekitar 2700 SM, kepompong ulat sutra jatuh ke dalam cangkir teh Permaisuri Leizu. Ketika diangkat, kepompong itu terurai menjadi benang halus yang berkilau.

Kisah tersebut memang belum dapat dibuktikan secara historis. Namun, temuan arkeologi menunjukkan bahwa penggunaan sutra telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Protein sutra ditemukan di situs Jiahu, Provinsi Henan, Tiongkok, dalam konteks arkeologis berusia sekitar 8.500 tahun.

Budidaya ulat sutra diperkirakan berkembang sekitar 4.100–5.000 tahun lalu. Seiring waktu, sutra menjadi komoditas bernilai tinggi dan simbol status sosial.

Di Tiongkok kuno, bahan ini bahkan digunakan sebagai alat pembayaran pajak. Tak heran jika sutra kemudian identik dengan kemewahan dan menjadi salah satu komoditas penting dalam perdagangan lintas wilayah.

4. Rayon, alternatif sutra dari selulosa kayu

Keinginan manusia untuk meniru keindahan sutra mendorong lahirnya bahan tekstil baru pada abad ke-19.

Insinyur Prancis Hilaire de Chardonnet mengembangkan serat buatan yang dirancang menyerupai sutra. Salah satu hasil eksperimennya diperkenalkan dalam pameran di Paris pada 1889. Namun, bahan awal tersebut mudah terbakar sehingga belum ideal untuk penggunaan luas.

Pengembangan berikutnya menghasilkan serat viscose, yang kemudian diproduksi secara komersial oleh Courtaulds pada 1905. Istilah rayon mulai digunakan pada 1924.

Berbeda dari poliester yang dibuat melalui proses kimia berbasis polimer sintetis, rayon berasal dari selulosa, umumnya yang diperoleh dari kayu. Selulosa tersebut diproses kembali menjadi serat tekstil, sehingga rayon digolongkan sebagai serat semisintetis.

Karakteristiknya yang dapat terasa lembut dan jatuh membuat rayon banyak digunakan untuk blus, gaun, serta berbagai jenis pakaian lainnya.

5. Nilon, bahan stoking yang sempat memicu keributan

Nilon lahir dari penelitian kimia di perusahaan DuPont, Amerika Serikat. Pada 1935, Wallace Carothers dan timnya menghasilkan nilon 6,6, salah satu serat sintetis yang kemudian mengubah industri tekstil.

DuPont memperkenalkannya sebagai alternatif sutra, terutama untuk stoking perempuan. Sambutannya luar biasa. Setelah penjualan awal pada 1939, stoking nilon dipasarkan secara nasional pada Mei 1940 dan terjual hingga ratusan ribu pasang dalam sehari.

Namun, Perang Dunia II mengubah arah produksinya. Nilon dialihkan untuk kebutuhan militer, termasuk parasut, tali, dan perlengkapan perang lainnya.

Ketika perang berakhir dan stoking kembali dinantikan konsumen, persediaannya tidak mampu memenuhi permintaan. Di sejumlah tempat, antrean pembelian bahkan berujung pada keributan.

Dari kebutuhan praktis hingga fenomena budaya populer, nilon akhirnya menjadi salah satu bahan penting dalam industri pakaian modern.

6. Poliester, serat yang mendominasi produksi tekstil dunia

Jika ada satu bahan yang sangat mudah ditemukan dalam lemari masa kini, poliester layak masuk daftar teratas.

Serat ini dikembangkan oleh kimiawan Inggris John Rex Whinfield bersama asistennya, James Tennant Dickson. Pada 1941, keduanya mengajukan paten untuk serat poliester berbasis polimer yang dapat ditarik menjadi benang. Paten tersebut baru diumumkan pada 1946 karena kerahasiaan selama perang.

Pada awal 1950-an, poliester mulai dipasarkan secara komersial melalui produk seperti Terylene dan Dacron.

Keunggulannya mencakup daya tahan, kemampuan mempertahankan bentuk, serta kemudahan perawatan. Bahan ini juga relatif cepat kering sehingga banyak digunakan untuk pakaian olahraga, busana sehari-hari, dan berbagai produk tekstil.

Menurut data yang dikutip dalam laporan industri tekstil global, poliester menyumbang sekitar 59 persen produksi serat dunia pada 2024. Angka tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh serat buatan dalam industri mode saat ini.

Dari serat rami yang ditemukan di gua prasejarah hingga poliester yang diproduksi dalam skala industri, bahan pakaian merekam perjalanan panjang hubungan manusia dengan alam, perdagangan, dan teknologi.

Jadi, lain kali saat memeriksa label pakaian, ada baiknya tidak semata melihat petunjuk perawatan. Setiap serat membawa kisah berbeda tentang sejarah penemuan, pengolahan, dan pengembangan bahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.