Prof. Reda Manthovani dan Ikhtiar Mendekatkan Hukum kepada Masyarakat

Navaswara.com – Lebih dari tiga dekade menjadi bagian dari institusi Adhyaksa, Prof. Reda Manthovani menjalani perjalanan panjang sebagai jaksa sekaligus birokrat penegak hukum. Perjalanan tersebut tidak hanya membentuk kariernya, tetapi juga mempertemukannya dengan beragam persoalan masyarakat yang kemudian turut membentuk cara pandangnya dalam menjalankan tugas.

Posisi Jaksa Agung Muda merupakan jabatan karier yang diemban oleh jaksa aktif dengan kualifikasi dan pengalaman tertentu. Setelah melewati berbagai penugasan di lingkungan Kejaksaan, Prof. Reda dipercaya mengemban amanah sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) dan resmi dilantik pada 31 Oktober 2023.

Sebelumnya, ia telah menjalani sejumlah penugasan strategis, antara lain di Hong Kong, sebagai Asisten Umum Jaksa Agung, Kepala Biro Perencanaan Kejaksaan Agung, hingga Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Namun, perjalanan Prof. Reda tidak semata-mata tentang jabatan dan jenjang karier. Pengabdiannya selama puluhan tahun juga membawanya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk persoalan di tingkat desa. Pengalaman ketika mengawali karier sebagai calon jaksa di Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu fase yang membentuk kepeduliannya terhadap masyarakat pedesaan.

Dari pengalaman tersebut, Prof. Reda melihat bahwa penegakan hukum tidak selalu berhenti pada proses penindakan. Ada ruang yang tak kalah penting untuk melakukan pencegahan, membangun komunikasi, memperkuat tata kelola, dan memastikan berbagai program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat.

Pandangan itu kemudian tercermin dalam sejumlah gagasan dan inisiatif yang dikembangkan, mulai dari penguatan pengawasan melalui program Jaksa Garda Desa (Jaga Desa), pemberdayaan ekonomi perdesaan, pengawasan kualitas Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kepedulian terhadap kelompok inklusi.

Di tengah kesibukannya sebagai Jamintel, Prof. Reda masih menyempatkan diri turun dan berinteraksi dengan masyarakat. Baginya, berada dekat dengan masyarakat memberikan pemahaman yang berbeda tentang persoalan hukum dan pembangunan, pemahaman yang tidak selalu dapat diperoleh hanya dari balik meja birokrasi.

Dalam perbincangan bersama Navaswara, Prof. Reda Manthovani bercerita tentang perjalanan lebih dari tiga dekade di Kejaksaan, suka duka menjadi jaksa, pengalamannya bersentuhan dengan masyarakat desa, hingga gagasan mengenai pencegahan korupsi dan penguatan ekonomi masyarakat.

Berikut petikan perbincangannya.

Navaswara: Prof, Anda sudah lebih dari tiga dekade mengabdi di Kejaksaan. Bagaimana perjalanan sampai akhirnya menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen?

Prof. Reda Manthovani: Saya mulai di Kejaksaan pada Maret 1994 sebagai calon jaksa di Kabupaten Sukabumi. Sekitar Maret 1997 saya resmi menjadi jaksa. Dalam perjalanan karier, saya cukup banyak bertugas di bidang khusus. Salah satunya di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, sekitar 2005 sampai 2010.

Setelah itu saya mendapat beberapa penugasan struktural. Pernah menjadi Kepala Bagian Tata Usaha di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, kemudian Kepala Kejaksaan Negeri, bertugas sebagai atase di Hong Kong, menjadi Asisten Umum Jaksa Agung, Kepala Biro Perencanaan, Kepala Kejaksaan Tinggi Banten, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan sekarang Jamintel.

Menariknya, sepanjang karier saya sebenarnya tidak pernah bertugas langsung di bidang intelijen. Mungkin itu bagian dari hoki saya. Tapi saya menerapkan pengalaman dan pengetahuan tentang masyarakat serta pemahaman umum mengenai intelijen yang saya peroleh selama berkarier.

Navaswara: Tiga puluh tahun lebih menjadi jaksa tentu ada suka dan dukanya. Apa yang paling terasa?

Prof. Reda Manthovani: Suka dan duka itu seperti dua sisi mata uang, tinggal dibolak-balik saja.
Sukanya, kita banyak berhubungan dengan masyarakat. Kita bisa menegakkan hukum untuk kepentingan publik, sekaligus memberikan solusi agar masyarakat tidak sampai melakukan tindak pidana.

Dukanya, sebagai pegawai negeri dan jaksa kita harus siap dipindahkan ke berbagai tempat. Kadang kita bertugas di daerah, sementara keluarga tetap di Jakarta karena punya kegiatan sendiri. Akhirnya harus berpisah.

Itu bagian yang paling terasa. Kita tidak selalu bisa hadir mendampingi keluarga, terutama ketika anak-anak masih kecil.

Navaswara: Prof cukup sering turun ke masyarakat. Dari mana perhatian terhadap desa itu bermula?

Prof. Reda Manthovani: Dari penugasan pertama saya sebagai calon jaksa di Sukabumi.
Saya tinggal di tengah masyarakat desa, bukan di kota dan bukan dekat kantor Kejaksaan. Rumah kos saya berada di lingkungan persawahan. Saya bergaul dengan sekretaris desa dan perangkat desa.
Dari situ saya memahami kehidupan masyarakat secara langsung: apa kebutuhannya, apa masalahnya, dan di mana letak hambatannya.

Waktu itu ada masyarakat yang sudah mengelola tanah selama sekitar 20 tahun, tetapi belum mempunyai sertifikat. Saya melihat ada kesenjangan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.
Saya mencoba menjadi jembatan dengan Badan Pertanahan Nasional setempat. Alhamdulillah, masyarakat yang sebelumnya hanya menjadi petani penggarap tanah negara akhirnya memperoleh hak atas tanah tersebut.

Pengalaman itu membekas. Saya kemudian berpikir bahwa desa membutuhkan kepanjangan tangan atau jembatan agar program pemerintah benar-benar sampai ke masyarakat.

Navaswara: Cara pandang itu kemudian muncul dalam perhatian Anda terhadap ekonomi desa?

Prof. Reda Manthovani: Betul. Saya pernah mendapat keluhan masyarakat di Kabupaten Tangerang. Mereka menanam jagung dan kol, tetapi hasilnya tidak bagus.

Saya berpikir, kalau teknologi pertanian sudah berkembang, mungkin tanahnya perlu diperiksa. Setelah dilakukan penelitian, ternyata tanah tersebut kurang cocok untuk jagung dan kol, tetapi cocok untuk bawang merah.

Masyarakat kemudian mencoba menanam bawang merah. Hasilnya bagus. Dalam setahun bisa panen sampai tiga kali. Padahal sebelumnya jagung hanya sekitar dua kali panen dengan hasil kecil. Lahan itu milik Pemerintah Kabupaten Tangerang dan dipercayakan kepada masyarakat untuk dikelola.

Kami kemudian mencoba menghubungkan berbagai program dengan potensi yang ada. Di lahan sekitar tiga hektare itu dikembangkan pertanian bawang merah, koperasi, peternakan ayam petelur, dan budidaya ikan.

Untuk peternakan ayam, kami menggalang dukungan CSR untuk sekitar seribu ekor ayam petelur. Di dekatnya ada dapur SPPG. Jadi ada bawang, telur, dan ikan. Produk itu dapat disalurkan melalui koperasi kepada masyarakat maupun ke dapur SPPG.

Saya melihatnya sebagai siklus ekonomi perdesaan. Produksi ada di desa, pengelolaan ada di desa, kemudian hasilnya dipasarkan dan dikonsumsi melalui ekosistem yang ada di sana.

Ketika Kementerian Koperasi melihat model tersebut, kami mendapatkan apresiasi melalui penghargaan Bakti Koperasi Pradana Nayaka dalam Koperasi Awards 2026.

Navaswara: Anda juga dikenal melalui program Jaga Desa. Apa yang ingin dicegah melalui program itu?

Prof. Reda Manthovani: Awalnya saya mendapat banyak laporan tentang kepala desa atau perangkat desa yang tersangkut perkara hukum. Jumlahnya cukup besar, sampai ratusan dalam periode tertentu.
Ini menjadi peringatan bahwa ada persoalan yang harus dicegah.

Jaga Desa bukan dibuat untuk mencari kesalahan kepala desa. Justru bagaimana pengelolaan dana desa lebih tertib dan transparan sehingga kepala desa tidak mudah terjerumus ke persoalan hukum.

Kami mendorong agar data Sistem Keuangan Desa atau Siskeudes dapat terkoneksi dengan sistem Jaga Desa. Dengan begitu pertanggungjawaban keuangan desa dapat dimonitor.

Misalnya ada laporan pembangunan jalan, jembatan, atau musala dengan anggaran tertentu. Yang dilaporkan adalah dokumen dan angka. Pertanyaannya, apakah pembangunan itu benar-benar ada di lapangan?

Jaksa tidak mungkin mengecek seluruh desa karena personelnya terbatas. Karena itu perlu kolaborasi dengan masyarakat.

Di sini peran Badan Permusyawaratan Desa atau BPD menjadi penting. BPD dipilih masyarakat dan bukan bawahan bupati. Kami kemudian membangun komunikasi dengan asosiasi BPD, ABPEDNAS.

Dengan begitu, pengawasan dilakukan bersama. Kepala desa menjalankan kewajibannya, masyarakat melalui BPD ikut mengawasi, dan aparat penegak hukum melakukan pendampingan serta pencegahan.

Kesalahan kepala desa pun tidak selalu karena niat jahat. Bisa saja karena tidak tahu atau keliru dalam administrasi. Misalnya menggunakan anggaran untuk kegiatan lain tetapi perubahan administrasinya tidak dilakukan. Karena itu pendekatannya tidak hanya penindakan, tetapi juga pencegahan.

Navaswara: Selain mengawasi desa, Anda juga berbicara tentang MBG Mandiri. Apa konsepnya?

Prof. Reda Manthovani: MBG Mandiri berbeda dengan program MBG pemerintah. Ini merupakan kepedulian perusahaan yang menggunakan dana CSR untuk menyediakan makan siang gratis, terutama bagi sekolah khusus dan sekolah inklusi.

Ada perusahaan yang menyediakan CSR. Ada sekolah yang membutuhkan makanan. Ada dapur yang menyediakan. Ada pemerintah daerah dan tenaga kesehatan yang dapat ikut memantau.

Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) yang terlibat hanya menghubungkan pihak-pihak tersebut. Kami tidak mengelola uangnya. Misalnya ada anggaran Rp15 ribu per anak. Sekolah menentukan kebutuhan dan menu. Dapur menyediakan makanan. Setelah makanan diterima dan diverifikasi sekolah, tagihan langsung dibayarkan oleh perusahaan pemberi CSR.

Jadi uang tidak melalui yayasan. Peran kami adalah connecting the dots.

Navaswara: Jadi tidak ada uang pemerintah yang dikelola melalui yayasan?

Prof. Reda Manthovani: Tidak. Ini perlu diluruskan. Yang saya ceritakan tadi menggunakan CSR perusahaan, bukan uang pemerintah.

Kami hanya mengorkestrasi. Ada sekolah, dapur, perusahaan pemberi CSR, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan pihak lain yang diperlukan.

Saya melihat program makan bergizi sebenarnya bisa menjadi tanggung jawab bersama. Kalau CSR perusahaan di Indonesia dikelola dengan baik, sebagian kebutuhan bisa dibantu dari sana.

Tetapi pemerintah membutuhkan kecepatan dan skala yang besar. Karena itu pemerintah menggunakan anggaran negara untuk menjalankan programnya.

Navaswara: Lalu apa fungsi Jaga Dapur MBG?

Prof. Reda Manthovani: Jaga Dapur MBG merupakan aplikasi untuk memonitor pelaksanaan dan menerima laporan dari penerima manfaat mengenai kualitas makanan. Murid dan guru dapat memberikan laporan melalui kode QR.

Misalnya kalau makanan basi atau kualitasnya tidak sesuai. Laporan itu dapat dipantau oleh Kejaksaan dan diteruskan melalui sistem kepada Badan Gizi Nasional untuk ditindaklanjuti, termasuk kepada SPPG terkait. Jadi masyarakat mempunyai ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka sebagai penerima manfaat.

Navaswara: Belum lama ini Prof juga Asosiasi Perlindungan Masyarakat (Aslinmas). Apa yang melatarbelakangi?

Prof. Reda Manthovani: Dulu kita mengenalnya sebagai Hansip. Sekarang Satuan Perlindungan Masyarakat atau Linmas. Mereka bekerja sangat dekat dengan masyarakat. Kalau ada konflik antarwarga, persoalan keluarga, atau masalah lingkungan, sering kali Linmas yang pertama mengetahui.

Dari perspektif intelijen, mereka sebenarnya sumber informasi awal yang penting. Masalahnya, perhatian terhadap kesejahteraan mereka belum merata. Tanggung jawabnya besar, tetapi penghargaan yang diterima sering kali belum sebanding.

Karena itu kami mendorong pembentukan asosiasi agar mereka mempunyai kekuatan untuk menyampaikan aspirasi. Kami juga memetakan daerah mana yang memberikan insentif, BPJS Ketenagakerjaan, atau bentuk perlindungan lainnya. Harapannya ada standar yang lebih merata. Minimal perlindungan dasar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan, kalau memungkinkan, BPJS Kesehatan.

Navaswara: Linmas juga Anda kaitkan dengan persoalan sampah?

Prof. Reda Manthovani: Linmas tidak hanya bisa menjaga keamanan. Mereka juga dapat membantu mengubah perilaku masyarakat.

Misalnya masyarakat sejak awal diajarkan memilah sampah organik dan non-organik. Linmas bisa datang dari rumah ke rumah, memberikan tempat atau wadah yang berbeda, lalu mengingatkan masyarakat. Sampah yang sudah dipilah kemudian dikumpulkan dan dikelola sesuai jenisnya.

Ada daerah yang sudah menerapkan konsep seperti itu. Jadi Linmas bisa menjadi bagian dari perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat bisa didatangi, diberi tempat sampah yang berbeda, diingatkan, lalu dibiasakan memilah. Lama-lama terbentuk kebiasaan baru.

Navaswara: Bicara soal inklusi, mengapa isu inklusi juga mendapat perhatian Prof?

Prof. Reda Manthovani: Kalau bukan kita yang memperhatikan, siapa lagi? Saya melihat saudara-saudara kita dari kelompok disabilitas masih sering dibedakan. Mungkin karena sejak kecil kita terbiasa melihat sesuatu yang berbeda lalu memperlakukannya secara berbeda.

Padahal di negara-negara yang lebih maju, disabilitas bukan alasan untuk membedakan seseorang.
Pemerintah memang harus menyediakan sarana dan prasarana yang setara. Tetapi itu membutuhkan waktu dan biaya.

Karena itu kita juga harus membantu dengan kemampuan yang kita punya. Lagi-lagi, peran kita adalah mengorkestrasi agar mereka mendapat kesempatan yang sama.

Navaswara: Prof banyak membantu olahraga disabilitas. Mengapa olahraga?

Prof. Reda Manthovani: Karena olahraga lebih mudah untuk saya bantu. Pembinaannya lebih jelas.
Disabilitas itu banyak jenisnya. Ada fisik, mental, dan kondisi lainnya. Saya lebih banyak berhadapan dengan atlet penyandang disabilitas fisik.

Mereka sudah mempunyai keinginan untuk bersaing. Mental bertandingnya juga sudah terbentuk. Mereka ingin berprestasi. Karena itu saya merasa lebih mampu membantu di bidang tersebut.

Navaswara: Persoalan apa yang paling sering Prof temui di daerah?

Prof. Reda Manthovani: Ketimpangan dukungan pemerintah daerah. Masih ada pemerintah daerah yang memperlakukan pembinaan atlet disabilitas berbeda dengan atlet non-disabilitas. Ada yang anggarannya sangat kecil, bahkan ada yang tidak memberikan dukungan. Padahal mereka juga warga daerah tersebut. Haknya sama.

Kami kemudian mendata perhatian pemerintah daerah terhadap NPC, termasuk bagaimana penganggarannya. Kami bandingkan pembinaan atlet disabilitas dengan atlet non-disabilitas.
Kalau ada ketimpangan, kami mendorong jajaran Kejaksaan di daerah untuk mengingatkan pemerintah daerah. Tidak perlu dengan pendekatan keras. Cukup diingatkan: atlet disabilitas juga warga mereka. Mereka bukan warga kelas dua.

Navaswara: Bagaimana dengan peluang menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya?

Prof. Reda Manthovani: Tentu targetnya yang terbaik. Tetapi saya tidak ingin atlet dibebani target yang terlalu berat. Target sebaiknya diberikan kepada pelatih karena pelatih yang paling mengetahui kemampuan atletnya.

Atlet penyandang disabilitas sudah menghadapi tantangan fisik. Kalau ditambah tekanan target yang terlalu tinggi, bisa menjadi beban psikologis. Jadi atlet harus dibuat enjoy. Mereka bertanding dengan semangat, sementara pelatih yang mengatur strategi dan target. Pelatih sangat penting. Membentuk penyandang disabilitas menjadi atlet yang kuat membutuhkan pelatih yang kuat, sabar, dan mampu memotivasi. Pelatih tidak boleh mudah marah. Atlet harus dibangun mentalnya, bukan dijatuhkan.

Navaswara: Prof beberapa kali menggunakan istilah memori amigdala ketika berbicara tentang perilaku. Apa maksudnya?

Prof. Reda Manthovani: Manusia banyak dipengaruhi oleh memori perasaan dan memori rasional.
Kalau menggunakan bahasa sederhana, ada alam bawah sadar dan alam sadar. Banyak perilaku kita sudah terbentuk melalui kebiasaan. Contohnya membuang sampah. Kita sudah sering mendengar kampanye agar tidak membuang sampah sembarangan. Tapi kalau hanya diberi ceramah, belum tentu perilaku berubah. Kebiasaan harus dilatih kembali.

Sama seperti belajar naik sepeda. Awalnya kita berpikir kaki kanan ke mana, kaki kiri ke mana. Jatuh berkali-kali. Setelah terbiasa, kita tidak berpikir lagi. Langsung bisa. Karena itu membentuk karakter tidak cukup dengan ceramah atau motivasi. Harus ada latihan dan praktik berulang.

Navaswara: Prof telah makan asam garam kehidupan, apa filosofi hidup yang Anda pegang?

Prof. Reda Manthovani: Saya tidak terlalu banyak berpikir. Saya jalani saja. Ada kepuasan ketika kita bisa memberikan solusi kepada orang lain. Intinya, menjadi orang yang bermanfaat adalah tema besar dalam kehidupan saya.

Ada hadis yang mengatakan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Tapi bagi saya, manfaat itu tidak hanya untuk manusia. Yang hidup di bumi ini bukan hanya manusia. Ada hewan, tumbuhan, dan alam.

Karena itu dalam berbagai kunjungan saya juga melepas burung, ikan, penyu, dan menanam pohon. Kita harus menjaga keseimbangan alam. Menjadi manusia yang bermanfaat berarti juga bermanfaat bagi makhluk hidup lain dan alam semesta.

Navaswara: Siapa orang yang paling menginspirasi Anda?

Prof. Reda Manthovani: Jelas istri saya. Kalau tidak ada istri saya, perjalanan saya juga pincang.
Dia mengurus anak-anak dan menjaga keluarga tetap stabil. Anak-anak bisa belajar, berprestasi, dan kehidupannya terurus. Dengan begitu saya bisa berkonsentrasi pada pekerjaan.

Saya sering mengibaratkan istri sebagai penjaga gawang. Seorang striker boleh hebat, tetapi kalau penjaga gawangnya tidak bagus, tim tetap kebobolan.

Navaswara: Kalau istri Anda sedang menyaksikan wawancara ini, apa yang ingin Anda sampaikan

Prof. Reda Manthovani: You are the best. You are the best one in my life.

Navaswara: Dalam perjalanan panjang itu tentu ada tantangan, kritik, bahkan serangan. Bagaimana Anda menghadapinya?

Prof. Reda Manthovani: Sederhana. Amati. Kalau ada kejadian, amati, lakukan kontemplasi, lalu tarik napas. Jangan langsung menggunakan emosi. Kalau emosi yang bekerja, kita bisa langsung meledak, marah, atau mengomel. Akhirnya tidak ada solusi.

Tapi kalau kita berhenti sebentar, mengamati, dan menarik napas, kita bisa bertanya: mengapa ini terjadi? Mengapa saya melakukan kesalahan? Mengapa orang itu mengatakan demikian? Kita tidak perlu langsung menyerang balik. Bagi saya, pengamatan itu bagian dari kesadaran.

Orang mengenal IQ dan EQ. Saya juga melihat ada spiritual quotient. Bukan semata-mata soal seberapa sering kita pergi ke masjid atau gereja, tetapi bagaimana kita menjadi lebih bijaksana.

Kalau ada orang menyerang kita, tidak berarti kita harus langsung membalas. Kita cari tahu bagaimana supaya serangan yang sama tidak terjadi lagi. Jadi modalnya sederhana: tarik napas, amati, dan cari solusi.

Navaswara: Terakhir, apa pesan Anda untuk generasi muda?

Prof. Reda Manthovani: Berbuatlah. Bergeraklah. Lakukan sesuatu. Kalau salah, tidak apa-apa. Jangan takut bergerak hanya karena takut salah.

Memori perasaan manusia tidak selalu negatif. Ada sedih, marah, iri, dengki, serakah, dan pesimis. Tapi ada juga optimisme, keberanian, percaya diri, kebahagiaan, cinta kasih, dan empati.
Kita yang memilih berada di frekuensi yang mana.

Tapi semuanya membutuhkan latihan. Kita harus melatih diri dalam kehidupan sehari-hari. Kalau terus dilatih, kebiasaan positif akan terbentuk. Memang terdengar berat. Tetapi kalau dijalankan, sebenarnya tidak berat.

Navaswara: Dari perbincangan ini, satu hal yang terasa kuat adalah bahwa pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dari desa, atlet disabilitas, Linmas, lingkungan, bahkan dari kebiasaan sehari-hari. Prof, terima kasih atas waktu dan perbincangannya.

Prof. Reda Manthovani: Sama-sama.

Navaswara: Semoga percakapan ini menjadi inspirasi bahwa hukum, pengabdian, dan kepedulian kepada masyarakat pada akhirnya bertemu pada satu hal, yakni menjadi manusia yang bermanfaat.

Prof. Reda Manthovani: Tetap semangat, tetap optimistis, dan jangan lupa bahagia.